Butuh Waktu 15 Menit Petugas untuk Bergegas Menolong Korban Kasus Tabrakan Kereta KRL Vs KA Argo Bromo
Kredit Foto: Ist
Sebanyak 15 orang tewas dan 84 lainnya luka-luka akibat insiden tabrakan kereta api Jarak Jauh, Argo Bromo dan Kereta Rel Listrik (KRL) di dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.
Para penumpang yang selamat menggambarkan situasi kacau balau, penuh darah, dan gerbong yang ringsek sesaat setelah kereta jarak jauh menghantam KRL yang tengah dipadati pekerja.
Sebagaimana dijelaskan oleh South China Morning Post, tragedi ini dialami langsung oleh Herman Susanto, Ketua Federasi Pekerja Indonesia, dan rekannya, Dwi Aksan.
Keduanya berada di gerbong ketiga KRL relasi Jakarta-Cikarang yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur sekitar pukul 21.00 WIB.
"Kereta yang saya tumpangi baru saja akan berangkat dan pintunya sudah tertutup, tetapi tiba-tiba berhenti dan pintunya terbuka lagi," ungkap Aksan.
"Saya sedang berdiri di dekat pintu ketika melihat kereta berkecepatan tinggi melaju ke arah saya. Secara refleks, saya langsung melompat keluar ke peron."
Tanpa disadari Aksan, tabrakan ini dipicu oleh rentetan kejadian. Di jalur berlawanan, sebuah KRL relasi Cikarang-Jakarta menabrak taksi listrik yang mogok di tengah perlintasan.
Insiden tersebut memaksa KRL yang ditumpangi Aksan berhenti secara darurat. Nahas, KRL tersebut terhenti di jalur yang sama dengan lintasan Kereta Api (KA) Jarak Jauh relasi Jakarta-Surabaya.
Dalam hitungan detik, KA Argo Bromo menghantam bagian belakang KRL. Benturan paling keras berdampak pada dua gerbong terakhir KRL, terutama gerbong khusus perempuan.
Susanto, yang gagal melompat keluar, merasakan benturan dahsyat yang membuat bahunya terkilir. Ia menyaksikan pemandangan yang mengerikan di sekitarnya.
"Banyak sekali korban perempuan. Saya duduk di peron untuk menenangkan diri dan melihat evakuasi. Begitu banyak orang bersimbah darah, beberapa berdarah di telinga, dan wajah mereka terluka karena pecahan kaca," kenang Susanto.
Menurut kesaksian para korban, karena Stasiun Bekasi Timur tergolong kecil dengan jumlah staf terbatas, tim bantuan gabungan dan Palang Merah baru tiba di lokasi sekitar 15 menit setelah tabrakan.
Kepala Badan SAR Nasional, Mohammad Syafii, menyatakan bahwa timnya harus mengerahkan alat khusus untuk memotong kerangka logam guna membebaskan penumpang yang terjepit.
Respons Pemerintah dan Penyelidikan KAI
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menduga bahwa insiden tabrakan taksi sebelumnya telah memicu gangguan pada sistem persinyalan di sekitar stasiun. Namun, penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pastinya diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Merespons tragedi ini, Presiden RI Prabowo Subianto pada Selasa (28/4) pagi meninjau langsung para korban yang dirawat di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Bekasi. Presiden menjamin ketersediaan dukungan medis dan santunan penuh bagi para korban.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menjanjikan alokasi dana sebesar Rp4 triliun untuk memperbaiki sekitar 1.800 perlintasan kereta api di seluruh Pulau Jawa. Menurutnya, banyak infrastruktur perlintasan tersebut merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang mendesak untuk segera diperbarui.
Di luar faktor perlintasan, para korban selamat juga menyoroti sistem komunikasi darurat. Aksan menilai bahwa jika ada peringatan dini yang lebih jelas dari petugas stasiun dalam jeda waktu satu atau dua menit sebelum tabrakan kedua terjadi, banyak penumpang yang bisa segera menyelamatkan diri dan jumlah korban tewas dapat diminimalkan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat