Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Tertekan, Industri Asuransi Hadapi Biaya Naik

        Rupiah Tertekan, Industri Asuransi Hadapi Biaya Naik Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia Re menilai tekanan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya reasuransi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang turut memicu kenaikan premi war risk pada lini asuransi marine.

        Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, mengatakan kombinasi faktor eksternal tersebut mulai memengaruhi perhitungan risiko industri asuransi nasional.

        Menurut Delil, pelemahan rupiah berkaitan erat dengan biaya retrosesi atau pengalihan risiko kepada reasuradur global yang umumnya menggunakan mata uang asing. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan biaya bagi perusahaan asuransi domestik.

        “Ada kemungkinan itu terjadi. Terutama kalau situasi di Timur Tengah memburuk. Saat ini dampaknya sudah terlihat di lini marine, khususnya pada premi war risk yang terdampak langsung,” ujarnya usai Seminar Nasional “Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian” di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

        Delil menilai dampak paling cepat terlihat pada lini asuransi marine, terutama yang berkaitan dengan pengiriman melalui wilayah konflik. Peningkatan risiko perang membuat premi perlindungan naik karena potensi kerugian yang harus ditanggung juga semakin besar.

        Sementara itu, pada lini asuransi lain seperti properti, kondisi pasar masih relatif stabil. Namun, situasi tersebut dinilai dapat berubah apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut atau meluas.

        Baca Juga: Rupiah Terjaga dan Aman, BI Ambil Sikap Hati-hati

        Baca Juga: OJK Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Industri Asuransi

        Baca Juga: Gagalnya Diplomasi AS-Iran, Rupiah Bisa Jebol ke Rp17.400

        “Kalau properti saat ini masih soft. Tetapi kalau eskalasi di Timur Tengah meningkat, preminya bisa ikut naik,” katanya.

        Ketidakpastian global juga membuat industri reasuransi kesulitan memproyeksikan pergerakan risiko dalam jangka menengah. Menurut Delil, perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akan sangat menentukan arah premi dan biaya reasuransi ke depan.

        “Kami tidak bisa memprediksi karena semuanya tergantung perkembangan di Timur Tengah. Kalau ada ceasefire dan perang berhenti, tentu kondisinya bisa membaik. Tetapi kalau konflik berlanjut, semua kemungkinan bisa terjadi,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: