Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kemenperin Bantah Narasi Deindustrialisasi, Klaim Kontribusi Manufaktur Terus Meningkat

        Kemenperin Bantah Narasi Deindustrialisasi, Klaim Kontribusi Manufaktur Terus Meningkat Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membantah keras anggapan bahwa Indonesia sedang mengalami gejala deindustrialisasi dini. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menegaskan bahwa indikator yang digunakan para pengamat tidak mencerminkan kondisi riil industri manufaktur saat ini.

        Pemerintah menyoroti kekeliruan dalam membandingkan data kontribusi PDB industri pengolahan sebelum dan sesudah tahun 2009. "Data kontribusi tersebut tidak dapat diperbandingkan karena konsep, definisi, dan metodologi perhitungan Industri Pengolahan telah berubah," ujar Febri, Rabu (29/5/2026).

        Penurunan persentase kontribusi yang sering diperdebatkan terjadi akibat perubahan perhitungan dari harga produsen menjadi harga dasar sejak 2010. Selain itu, sektor industri pengolahan kini terpecah menjadi empat lapangan usaha berbeda, sehingga nilai nominalnya tampak mengecil dibandingkan metodologi lama.

        Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional mencapai 19,07% pada 2025. Tren positif ini didorong oleh efektivitas kebijakan hilirisasi industri serta penguatan konsumsi domestik pascapandemi.

        Sektor manufaktur juga dilaporkan tetap tumbuh stabil di kisaran 4% hingga 6%, mengimbangi pertumbuhan ekonomi nasional yang rata-rata berada di angka 5%. "Jadi tidak terjadi indikasi yang kedua ini," tegas Febri menanggapi isu pertumbuhan manufaktur yang dianggap lambat.

        Baca Juga: Kemenperin Dorong Penggunaan Skema LCS di Tengah Pelemahan Rupiah

        Terkait isu perpindahan tenaga kerja, Kemenperin mencatat tidak ada pergeseran pekerja dari sektor industri ke sektor jasa. Saat ini, jumlah tenaga kerja di sektor industri pengolahan tetap stabil di angka 21,6 juta orang dan terus bertambah setiap tahunnya.

        Peningkatan jumlah pekerja di sektor jasa lebih disebabkan oleh masuknya angkatan kerja baru yang belum terserap sepenuhnya oleh pabrikan. Dengan demikian, stabilitas penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur dinilai masih menjadi tulang punggung perekonomian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: