Kredit Foto: Romus Panca
Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan mencatat, data arus migrasi ke Kota Batam, Kepri, periode 2024 hingga 2029 mencatat potensi pertumbuhan penduduk migran lebih dari 17 ribu jiwa.
Lonjakan ini diprediksi akan terus meningkat tajam dalam beberapa tahun ke depan. Fakta di lapangan jauh lebih mencengangkan. Dalam enam bulan terakhir, estimasi awal ada migrasi data kependudukan sekitar 45 ribu. Kondisi ini dinilai menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa laju migrasi yang tinggi harus segera dikendalikan agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap daya dukung kota.
“Pertumbuhan migrasi di Batam ini sangat tinggi. Kalau tidak kita kendalikan dengan baik di tingkat daerah, dampaknya akan sangat luas, mulai dari lingkungan hingga kesejahteraan masyarakat,” tegasnya, usai pimpin rapat paripurna di DPRD Batam, Kamis (30/4/2026).
Dampak yang mulai terasa pun beragam. Pertama, volume sampah meningkat signifikan seiring bertambahnya jumlah penduduk. Kedua, angka kemiskinan berpotensi bertambah jika pertumbuhan tidak diimbangi dengan lapangan kerja. Ketiga, risiko kawasan kumuh dan penurunan kualitas lingkungan menjadi ancaman nyata.
Tak hanya itu, Amsakar menilai, tekanan terhadap infrastruktur dasar juga semakin besar. Pemerintah menyoroti pentingnya percepatan pembangunan jaringan telekomunikasi serta peningkatan layanan air bersih.
“Kita harus memastikan keandalan pelayanan air bersih dan infrastruktur dasar lainnya. Karena pertumbuhan penduduk ini terjadi sangat cepat dan masif,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan perubahan kebijakan nasional terkait data sosial. Jika sebelumnya bantuan mengacu pada DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), kini beralih ke DT10 atau Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional.
Perubahan ini berdampak langsung pada penerima bantuan. Program lansia yang semula dirancang untuk 2.000 orang kini meningkat menjadi 4.000 orang. Namun, sekitar 2.000 penerima lama justru tidak lagi masuk kategori berdasarkan klasifikasi baru.
“Perubahan data ini membuat kita harus benar-benar cermat. Jangan sampai kebijakan yang kita ambil tidak tepat sasaran,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah kini melakukan pendataan ulang, khususnya untuk kelompok usia produktif hingga lansia, guna memastikan distribusi bantuan lebih akurat.
Baca Juga: Nilai Ekspor Batam Tumbuh di Pasar Global Meski Banyak Sektor Terkoreksi
Selain persoalan teknis, Amsakar juga menekankan pentingnya membangun narasi positif di tengah masyarakat agar arus migrasi tidak memicu konflik sosial.
“Mari kita maknai Batam sebagai rumah bersama. Migrasi ini harus kita kelola, bukan menjadi sumber persoalan baru,” ujarnya.
Untuk merespons situasi ini, diakuinya, berbagai tim lintas sektor telah diturunkan ke lapangan, mulai dari penanganan sampah, kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan hidup, guna memetakan persoalan dan merumuskan kebijakan strategis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Romus Panca
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: