Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Minyakita Sempat Langka, Gapki Sebut Imbas Penurunan Ekspor Sawit

        Minyakita Sempat Langka, Gapki Sebut Imbas Penurunan Ekspor Sawit Kredit Foto: Kemendag
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menanggapi isu kelangkaan minyak goreng program pemerintah, Minyakita, yang terjadi di sejumlah daerah bulan lalu. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa berkurangnya pasokan Minyakita di pasar domestik merupakan dampak langsung dari melemahnya kinerja ekspor sawit nasional.

        Eddy menjelaskan, volume ekspor kelapa sawit pada periode Februari ke Maret 2026 mengalami penurunan sebesar 30 persen akibat disrupsi geopolitik global. Karena hak ekspor perusahaan terkait erat dengan kewajiban pasok domestik atau Domestic Market Obligation (DMO), penurunan ekspor secara otomatis memangkas realisasi DMO.

        "Wah kok Minyak Kita langka katanya, turun. Saya kemudian saya komunikasi dengan anggota kita ternyata DMO kita juga turun dari 1,9 turun menjadi 1 juta. Ada penurunan 900 ribu karena penurunan ekspor tersebut," ujar Eddy di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

        Berkurangnya pasokan ini sempat memicu kesan di masyarakat bahwa para eksportir lebih memilih mengalihkan produknya ke pasar luar negeri demi mengejar keuntungan saat harga global sedang tinggi. Namun, Eddy menegaskan bahwa ketersediaan pasokan domestik sepenuhnya bergantung pada mekanisme regulasi yang berjalan secara sistemis.

        "Yang saya mau sampaikan di sini adalah jangan sampai nanti ada kesan bahwa dengan harga tinggi kemudian perusahaan-perusahaan eksportir tuh maunya ekspor tidak mau melayani dalam negeri. Bukan seperti itu, kejadian semua ekspor itu semua mekanisme terkontrol oleh pemerintah, hanya saja di sini memang karena ekspor turun automatically DMO-nya juga akan turun seperti itu," ungkapnya.

        Berdasarkan data kinerja industri sawit hingga Februari 2026, total konsumsi lokal tercatat sebesar 4,4 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan untuk sektor pangan menyerap 1,83 juta ton, sementara sektor biodiesel mengonsumsi 2,21 juta ton.

        Baca Juga: Rekor Ekspor Sawit 2025, Efisiensi Rp48 Triliun dari Program Biodiesel

        Baca Juga: Menko Pangan Zulhas Ungkap Penyebab Lonjakan Harga Minyakita di Pasar

        Meskipun konsumsi domestik terus menunjukkan tren kenaikan setiap tahunnya, kinerja ekspor yang melambat menjadi hambatan bagi pemenuhan kuota DMO. Eddy menyebutkan, penurunan ekspor sebesar 30 persen tersebut dipicu oleh pecahnya perang yang melambungkan biaya logistik (Cost Insurance and Freight) hingga 50 persen.

        Hambatan logistik ini memaksa sejumlah importir global untuk menahan pembelian, yang pada akhirnya berdampak pada volume produksi ekspor nasional. Secara regulasi, ketika volume ekspor menyusut, jumlah pasokan minyak goreng yang harus disalurkan ke pasar domestik sebagai syarat ekspor juga ikut terkoreksi.

        Data resmi GAPKI mencatat produksi total CPO dan PKO hingga Februari 2026 mencapai 10,73 juta ton. Indonesia saat ini tetap memegang posisi sebagai produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia, dengan pangsa produksi global mencapai 57,49 persen.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: