Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

GAPKI Ungkap Biaya Produksi Sawit Melejit: BBM Industri Tembus Rp 30 Ribu dan Pupuk Naik 30 Persen

GAPKI Ungkap Biaya Produksi Sawit Melejit: BBM Industri Tembus Rp 30 Ribu dan Pupuk Naik 30 Persen Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, melaporkan adanya kenaikan signifikan pada berbagai komponen biaya produksi di sektor perkebunan kelapa sawit. Komponen biaya yang mengalami lonjakan paling tajam adalah harga bahan bakar minyak (BBM) industri serta harga pupuk.

Eddy menjelaskan bahwa harga BBM industri (B40) yang digunakan untuk operasional di dalam kebun kini telah mencapai Rp 30.000 per liter. Menurutnya, kondisi ini menjadi beban tambahan bagi para pelaku usaha di tengah dinamika harga minyak nabati dunia.

"Tetapi di sisi lain cost kita juga naik, pupuk naik 30 persen, BBM industri yang di kebun sekarang dari 15.000 sudah naik menjadi 29 sampai 30.000," kata Eddy dalam paparan kinerja industri sawit di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Kenaikan biaya operasional di sektor hulu tersebut berbarengan dengan melambatnya kinerja ekspor sawit nasional. Berdasarkan laporan dari anggota GAPKI, volume ekspor pada periode Februari ke Maret 2026 tercatat mengalami penurunan hingga 30 persen.

"Saya sudah mendapatkan laporan dari anggota bahwa ekspor kita Februari ke Maret 2026 justru turun 30 persen. Kenapa turun? Karena terjadinya perang. Perang ini betul-betul menyebabkan harga-harga naik luar biasa," ujar Eddy.

Terkait harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani, Eddy menyebutkan saat ini harga sedang berada pada level yang tinggi, yakni mencapai Rp 4.000 per kilogram di wilayah Riau. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa tingginya harga jual TBS tersebut tetap terbebani oleh tingginya biaya produksi.

"Artinya petani itu sangat sangat ini sangat apa sangat sangat happy dengan kondisi sekarang harga TBS itu tidak pernah terjadi sampai di bawah 3.000. Termasuk di tahun 2025 pun demikian kita lihat sekarang karena kondisi harga minyak sawit bagus mereka harga bahkan sampai 4.000 ya. Tetapi jangan lupa cost kita sebenarnya juga naik," tutur Eddy.

Baca Juga: BPDP Buka Pendaftaran Grant Riset 2026 untuk Dorong Riset Kelapa Sawit, Kakao, dan Kelapa

Baca Juga: Emiten Sawit DSNG Raih Pendapatan Rp2,9 Triliun di Q1 2026, Laba Naik 15%

Besarnya kenaikan harga pupuk sebesar 30 persen dan mahalnya BBM industri memunculkan kekhawatiran terkait pola perawatan tanaman oleh petani. Eddy menyoroti potensi penurunan produksi nasional pada tahun depan jika standar pemupukan tidak terpenuhi akibat kendala biaya.

"Nah ini yang saya khawatirkan justru kalau dengan harga pupuk naik kemudian petani tidak memupuk. Nah ini yang yang khawatirkan akibatnya nanti produksi akan turun tahun depan akan akan berakibat akan berdampak pasti kalau pupuk tidak di artinya bahwa tanaman tidak dirawat atau dipupuk dengan benar gitu artinya dengan sesuai dengan dosis yang benar," jelasnya.

Berdasarkan data resmi GAPKI, total produksi kelapa sawit nasional (CPO dan PKO) hingga Februari 2026 mencapai 10,73 juta ton. Indonesia saat ini menyumbangkan 57,49 persen dari total produksi sawit dunia dan tercatat sebagai produsen minyak sawit terbesar global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman