Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bumi Aki Heritage dan Disbudpar Jabar Teken MoU Buka Jalan Kuliner Sunda Tembus Pasar Internasional

        Bumi Aki Heritage dan Disbudpar Jabar Teken MoU Buka Jalan Kuliner Sunda Tembus Pasar Internasional Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Upaya menjadikan kuliner Sunda sebagai kekuatan global memasuki babak baru. 

        Kolaborasi strategis antara Bumi Aki Heritage dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat resmi ditandai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang turut disaksikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

        Kesepakatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem gastronomi Jawa Barat yang tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga kekuatan cerita, budaya, dan pengalaman multisensori yang autentik.

        CEO Bumi Aki Heritage, Anisha Desiliana Resti, menegaskan bahwa kuliner Sunda memiliki potensi besar untuk bersaing di level internasional, meski selama ini belum tergarap maksimal.

        “Di bandara dunia kita melihat sushi atau nasi lemak mendominasi. Padahal Sunda punya seblak, empal gentong, hingga karedok yang bisa kita elevasi agar bernilai gizi, modern, dan diterima global,” ujarnya, Jumat (1/5/2026) malam.

        Langkah konkret pun mulai terlihat. Bumi Aki Heritage berhasil menarik minat wisatawan mancanegara dari berbagai negara seperti Malaysia, India, Singapura hingga Jepang. Bahkan, kerja sama dengan agen perjalanan membuka peluang baru, termasuk pasar wisatawan golf dari Jepang dan Korea yang mulai menjadikan kuliner Sunda sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka.

        Tidak sekadar soal popularitas, kolaborasi ini juga mendorong transformasi cara pandang terhadap kuliner. 

        Kepala Disbudpar Jabar, Iendra Sofyan, menekankan bahwa gastronomi harus dipahami sebagai pengalaman menyeluruh.

        “Wisatawan tidak hanya makan, tapi merasakan. Dari tampilan, aroma, tekstur, rasa hingga suara dalam proses penyajian semua harus terkurasi. Kami menyebutnya konsep 5K: Katingali, Karasa  (terasa -red), Karaba (teraba -red), Kaambeu (tercium -red), dan Kadangu (terdengar -red),” jelasnya.

        Pemerintah pun tengah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, mulai dari regulasi hingga edukasi bagi pelaku usaha dan UMKM. Tujuannya jelas yakni menggeser orientasi industri kuliner dari sekadar kuantitas menuju kualitas pengalaman.

        Dukungan juga datang dari Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Rizky Handayani Mustafa. Ia menilai gastronomi sebagai sektor prioritas yang harus dikembangkan secara kolaboratif.

        “Kita dorong paket wisata kuliner terintegrasi—mulai dari kopi khas Sunda di pagi hari, bubur tradisional, kudapan lokal, hingga makan malam empal gentong. Ini bukan sekadar makan, tapi lifestyle yang bisa dijual ke pasar global,” ungkapnya.

        Namun, di balik potensi besar tersebut, tantangan kurasi menjadi pekerjaan rumah utama. Jawa Barat memiliki ragam kuliner yang sangat kaya, dari Cirebon hingga Garut dan Bandung. Tanpa seleksi yang tepat, identitas kuliner bisa sulit menonjol di pasar internasional.

        Baca Juga: Hari Tatar Sunda Jadi Motor Baru Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Jawa Barat

        “Kalau Madura dikenal dengan sate ayam, maka Jawa Barat harus berani menetapkan ikon seperti sate Marangi agar punya daya ingat kuat,” tambah Rizky.

        Melalui MoU ini, Jawa Barat mulai menegaskan arah baru: menjadikan kuliner sebagai wajah budaya sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi kreatif. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan tidak hanya melestarikan warisan kuliner Sunda, tetapi juga mengangkatnya menjadi kekuatan kompetitif di kancah global.

        Pendekatan gastronomi berbasis cerita dan pengalaman, kuliner Sunda kini tidak lagi sekadar hidangan melainkan identitas yang siap mendunia. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: