Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amerika Serikat Ambil-alih Kapal Iran, Trump: Ini Bisnis Menguntungkan, Kami Seperti Bajak Laut

        Amerika Serikat Ambil-alih Kapal Iran, Trump: Ini Bisnis Menguntungkan, Kami Seperti Bajak Laut Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat buka suara terkait dengan blokade hingga pengambilalihan kapal yang dilakukannya di Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bagian tekanan untuk Iran.

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut operasi blokade hingga penyitaan kapal tersebut sebagai tindakan yang seperti bajak laut. Ia menyebutnya sebagai sebuah bisnis yang menguntungkan bagi Washington.

        Baca Juga: Amerika Serikat Sita Hampir US$500 Juta Aset Kripto Iran

        “Kami mendarat di atas kapal itu, mengambil alih kapal, kargo, dan minyaknya. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” ujarnya.

        “Kami seperti bajak laut, tapi kami tidak bermain-main," tegas dari Trump.

        Pernyataan tersebut memicu perhatian karena datang di tengah meningkatnya kekhawatiran hukum internasional terkait operasi maritim di Timur Tengah.

        Sebelumnya, Iran juga melayangkan protes terkait hal tersebut, dengan menyebut tindakan penyitaan sebagai pembajakan ilegal yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

        Utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, mengirim surat resmi kepada lembaga dunia untuk memprotes tindakan penyitaan kapalnya oleh Amerika Serikat. Ia menyebut penyitaan kapal tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

        "Ketergantungan pada pengaturan domestik yang secara inheren ilegal tidak dapat membenarkan kejahatan keji yang dilakukan melalui penggunaan kekuatan," ujarnya.

        Ia menegaskan bahwa tindakan penyitaan terhadap kapalnya merupakan bentuk pemaksaan ilegal dan campur tangan terhadap perdagangan internasional yang sah. Iran juga memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat menciptakan preseden berbahaya.

        "Perilaku seperti itu merupakan pemaksaan ilegal, intervensi terhadap perdagangan internasional yang sah, dan penyitaan properti secara tidak sah," kata Iravani.

        "Hal ini menciptakan preseden yang sangat merusak tatanan hukum internasional," tambahnya.

        Adapun Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah blokade terhadap negaranya belum memberikan dampak signifikan, seperti yang diharapkan oleh Amerika Serikat.

        Menurutnya, kebijakan blokade dasarkan pada persepsi yang keliru, di mana kebijakan tersebut dianggap akan menekan pihaknya secara ekonomi namun yang terjadi justru membuat harga minyak dunia melonjak tinggi  hingga di atas US$120 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi.

        Baca Juga: Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon

        Ghalibaf menilai strategi blokade justru merugikan pasar global dan memperburuk ketidakstabilan energi, di mana hal tersebut mencoreng citra dari Amerika Serikat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: