Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa masyarakat di Pulau Jawa akan menjadi yang pertama mencicipi Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 Kg. Program ini merupakan bentuk usaha pemerintah untuk menekan penggunaan LPG 3 Kg di tengah masyarakat.
Rencananya, bahan bakar ini akan mulai diperkenalkan dan diproduksi secara masif dalam tiga bulan ke depan.
''(Penerapannya) Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Ditargetkan tahun ini sudah bisa dikonsumsi masyarakat," ujar Laode dalam konferensi pers "CNG & LNG untuk Rakyat" di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Langkah ini dipandang mendesak mengingat konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun, di mana sekitar 75 persen di antaranya masih dipenuhi melalui impor.
Mengenai harga jual, Laode menjelaskan bahwa pemerintah saat ini masih dalam tahap finalisasi. Meski demikian, ia memberi sinyal kuat bahwa harga di tingkat masyarakat akan kompetitif dan setara dengan LPG subsidi saat ini.
"Ukurannya (harga) kemarin yang saya sampaikan tadi gitu, tapi tentu ada penyempurnaan. Dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg, kita bisa menghemat 30% subsidinya lebih rendah daripada subsidi LPG,'' imbuh Laode.
Dari sisi teknis dan keamanan, produk ini akan dikemas menggunakan tabung CNG Tipe 4 untuk ukuran 3 kg. Berbeda dengan tabung logam konvensional (Tipe 1), tabung Tipe 4 menggunakan material komposit fiber yang memiliki bobot jauh lebih ringan namun memiliki kekuatan tekan yang sangat tinggi.
Pemerintah juga menjamin bahwa masyarakat tidak perlu merogoh kocek tambahan untuk modifikasi peralatan dapur.
''Didesain sedemikian sehingga kompor tidak perlu diganti, tinggal plug and play. Kami sudah menyaksikan langsung, apinya bahkan lebih panas dan lebih biru," tambah Laode.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan LPG, Tabung CNG 3 Kg Akan Segera Dirilis
Baca Juga: CNG Siap Jadi Alternatif LPG, Bahlil: Bisa Hemat 130 Triliun
Implementasi CNG ini didukung penuh oleh ketersediaan bahan baku metana (CH4) yang melimpah di dalam negeri, termasuk adanya penemuan cadangan gas baru sebesar 5 TCF (Trillion Cubic Feet). Penggunaan gas domestik diharapkan mampu memperkuat kedaulatan energi nasional.
"Indonesia kaya akan gas alam dan ini harus kita manfaatkan. Gasnya ada dari hasil kita sendiri, jaraknya juga tidak jauh. Jadi selain menghemat subsidi, kita juga menghemat devisa karena tidak perlu impor," tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: