Harga Bitcoin (6/5) Tembus US$81.000: Cocok Buat Diversifikasi Saat Lonjakan Energi?
Kredit Foto: Unsplash/Art Rachen
Harga bitcoin mencatat tonggak penting dengan menembus level US$81.000 di (6/5). Kenaikan ini menandai pemulihan sekitar 35% dari titik terendah siklus dari US$62.000 di Februari 2026. Ia juga mengakhiri fase koreksi selama tujuh bulan sejak menyentuh rekor tertinggi US$126.000 di September 2025.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menyoroti indikator Relative Strength Index (RSI) mingguan yang sempat menyentuh level ekstrem.
Baca Juga: Bitcoin Punya Kesempatan Masuk Neraca Bank, Ini Kata Morgan Stanley!
“RSI mingguan Bitcoin sempat berada di level 27,48 pada Maret 2026, yang dalam sejarah hanya terjadi tiga kali. Dua kejadian sebelumnya pada 2015 dan 2018 menandai titik terendah siklus besar,” ujarnya.
Secara teknikal, lonjakan ini dinilai signifikan karena bitcoin berhasil kembali ke area bull market support band, yang sebelumnya menjadi batas utama dalam setiap upaya pemulihan harga.
Dari sisi permintaan, arus masuk dana ke Exchange-traded Funds (ETF) Bitcoin sepanjang April tercatat mencapai US$1,97 miliar. Selain itu, institusi besar seperti Strategy dan Bitmine disebut terus meningkatkan kepemilikan, melanjutkan tren akumulasi yang konsisten.
Momentum penguatan kripto ini terjadi di tengah tekanan inflasi energi yang mulai dirasakan di Indonesia. Per 4 Mei 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter.
Kenaikan juga terjadi pada harga avtur. Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik untuk Mei 2026 naik 16,16% menjadi Rp27.358 per liter, sedangkan avtur internasional melonjak hingga 21%, mendorong maskapai seperti Garuda Indonesia dan Citilink untuk menyesuaikan tarif tiket.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh Indonesian Crude Price (ICP) yang berada di kisaran US$82–85 per barel, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, serta ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok global.
Fahmi menilai kondisi ini memperkuat posisi kripto sebagai lindung nilai.
“Ketika daya beli rupiah tergerus inflasi, relevansi Bitcoin dan Ethereum sebagai aset lindung nilai dan penyimpan nilai semakin nyata bagi investor Indonesia,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sinyal bullish belum sepenuhnya terkonfirmasi. Data Santiment menunjukkan jumlah dompet aktif Bitcoin masih sekitar 531.000 per hari, mendekati level terendah dua tahun terakhir.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya divergensi antara kenaikan harga dan partisipasi investor ritel.
“Konfirmasi bullish yang sesungguhnya kemungkinan baru terjadi jika Bitcoin mampu bertahan konsisten di atas US$82.000 hingga US$85.000, yang dapat membuka jalan menuju US$90.000 bahkan US$100.000,” ujarnya.
Baca Juga: Brasil Larang Stablecoin dan Bitcoin untuk Remitansi Internasional
“Untuk saat ini, optimisme tetap perlu diimbangi dengan kehati-hatian," tambahnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: