Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Charles Hoskinson: AI Agent Akan Dominasi Internet dan Disrupsi Google hingga Amazon

        Charles Hoskinson: AI Agent Akan Dominasi Internet dan Disrupsi Google hingga Amazon Kredit Foto: Zabra
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pendiri Cardano, Charles Hoskinson memprediksi agent akal imitasi akan menjadi entitas yang lebih dominan dibanding manusia di internet dalam satu dekade ke depan. Menurutnya, perubahan tersebut sudah mulai memaksa adanya adaptasi dari perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook dan Amazon.

        Hoskinson mengatakan bahwa pada 2035 mayoritas aktivitas internet akan dilakukan oleh AI agent, mulai dari pencarian informasi hingga transaksi perdagangan digital.

        Baca Juga: Indonesia Dinilai Punya Peluang Strategis di Rantai Pasok Global AI

        “Pada 2035, mayoritas pencarian, perdagangan, dan aktivitas di internet akan dilakukan oleh AI agent, bukan manusia,” ujar Hoskinson.

        Ia menilai revolusi AI agent menjadi ancaman serius bagi model bisnis perusahaan teknologi raksasa saat ini.

        “Amazon, Google, dan Facebook takut terhadap revolusi agentic ini,” katanya.

        Menurut Hoskinson, perusahaan-perusahaan tersebut kini menggelontorkan investasi besar karena model bisnis mereka berpotensi terganggu secara fundamental.

        Ia menjelaskan bahwa AI agent tidak mengklik iklan dan tidak memiliki preferensi merek seperti manusia. Kondisi itu dinilai mengancam model bisnis berbasis iklan digital yang selama ini menopang Google, Amazon dan Facebook.

        “AI agent tidak peduli iklan atau loyalitas merek,” ujarnya.

        Hoskinson juga menyinggung ketertarikan Google terhadap protokol x402, sebuah sistem berbasis stablecoin dan kripto yang memungkinkan AI agent melakukan pembayaran otomatis secara langsung melalui internet.

        “Kenapa menurut Anda Google tertarik pada x402?” kata Hoskinson kepada audiensnya.

        Ia menilai perkembangan AI juga akan mengubah cara penggunaan kripto di masa depan. Menurutnya, kecerdasan buatan akan semakin banyak menangani tugas seperti due diligence, eksekusi transaksi, hingga interaksi dengan layanan decentralized finance (DeFi).

        Di sisi lain, Hoskinson memperingatkan pengguna kripto agar tidak terlalu bergantung pada pihak ketiga dalam menyimpan aset digital mereka.

        “Anda harus memiliki data Anda sendiri. Anda harus memiliki identitas Anda sendiri. Anda harus memiliki uang Anda sendiri,” tegasnya.

        Ia menilai banyak pengguna kini justru menyerahkan kontrol aset mereka kepada custodial wallet, jaringan berizin, dan pihak ketiga lain yang sewaktu-waktu dapat membatasi akses akun pengguna.

        Hoskinson juga mengkritik fragmentasi ekosistem blockchain yang dianggap memperlambat perkembangan industri kripto.

        “Sudah ada 11 juta token yang diterbitkan selama bertahun-tahun. Kita sudah cukup memilikinya,” ujarnya.

        “Apa yang saya inginkan adalah kerja sama. Apa yang saya inginkan adalah misi ini tercapai,” tambahnya.

        Menurut Hoskinson, pengalaman pengguna atau user experience masih menjadi hambatan utama adopsi kripto secara massal. Ia menggambarkan proses onboarding kripto saat ini masih rumit dan rawan kesalahan.

        “Itulah pengalaman pengguna di tahun 2026. Apakah itu produk yang ingin Anda gunakan?” katanya.

        Hoskinson menyebut teknologi seperti account abstraction dan chain abstraction dapat membantu menyederhanakan interaksi pengguna dengan sistem kripto tanpa mengorbankan kontrol atas aset dan identitas digital mereka.

        Ia juga menyoroti perubahan sikap institusi keuangan tradisional terhadap kripto. Menurutnya, bank besar seperti JPMorgan kini mulai mengembangkan produk blockchain setelah sebelumnya membatasi aktivitas terkait kripto.

        Baca Juga: Indosat Percepat Strategi AI, Targetkan Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

        “Dulu JPMorgan menutup rekening orang-orang yang terkait kripto, sekarang mereka punya produk blockchain sendiri,” ujar Hoskinson.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: