Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 7,46% di sepanjang 2021-2025. Adapun nilai ekspor tuna pada 2025 telah yang melampaui 1 miliar dolar AS.
Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan kontribusi masing-masing sebesar 19,59 persen; 16,38 persen; dan 15,58 persen dari total nilai ekspor tuna Indonesia yang mencapai 1,038 miliar dolar AS pada 2025.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, Ari Satria mengatakan capaian ini menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.
"Dengan nilai ekspor yang telah melampaui 1 miliar dolar AS pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global," katanya dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Produk bernilai tambah seperti tuna olahan dan fillet kini mulai mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi kunci.
Pemerintah terus memperkuat pengelolaan perikanan melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.
Baca Juga: Ekspor RI Naik Tipis, Bijih Logam Meledak 8.000%
Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Abd Raup, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sekaligus daya saing.
"Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional, guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global," ujarnya.
Di sisi lain, Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling menegaskan, pendekatan berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan terhadap stok ikan. Menurut Thilma, dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, di mana setiap ikan dimanfaatkan secara optimal.
"Saat ini, 40-50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi," kata Thilma.
Produk turunan seperti kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi dinilai memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku. Bahkan, pasar global kolagen diproyeksikan melampaui 9 miliar dolar AS pada 2030.
Dalam praktiknya, inovasi mulai dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya kolaborasi antara Collabit yang berbasis di Bitung, Sulawesi Utara, dengan restoran Padang Merdeka melalui menu 'Ayam Pop + Tuna Collagen' yang mengintegrasikan manfaat nutrisi tuna ke dalam hidangan populer.
Selain itu, Ocean Pure yang berbasis di Banda Aceh juga mengembangkan produk kolagen berbasis ikan untuk kebutuhan kesehatan dan gaya hidup.
Founder & CEO Collabit Michella Irawan mengatakan, inovasi ini menjadi langkah awal untuk membawa manfaat tuna lebih dekat ke masyarakat.
"Kami melihat potensi besar dari pemanfaatan tuna secara menyeluruh, termasuk melalui pengembangan kolagen yang dapat diaplikasikan dalam berbagai produk pangan dan kesehatan," ucapnya.
Sementara itu, Science Advisor Tuna Consortium sekaligus Chair Tuna Talks 2026 Prof. Budy Wiryawan menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam pengembangan industri.
"Dengan inovasi dan riset, kita dapat memperluas pemanfaatan tuna jauh melampaui konsumsi pangan. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan resonansi kebudayaan kelautan," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: