Kredit Foto: Istimewa
Asosiasi Emas China (China Gold Association/CGA) melaporkan penurunan produksi emas sebesar 3,3% secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Penurunan ini terjadi akibat sejumlah smelter dan tambang menghentikan sementara operasional untuk perawatan guna memperkuat aspek keselamatan.
Mengutip dari Reuters, total produksi emas dari bahan baku domestik dan impor mencapai 136,23 ton, sementara produksi domestik turun lebih tajam, yakni 7,1% menjadi 81,06 ton.
Namun di sisi lain, permintaan emas justru melonjak. Konsumsi emas di China naik 4,4% menjadi 303,29 ton. Lonjakan terbesar terjadi pada emas batangan dan koin sebagai instrumen investasi, yang meroket 46,4% menjadi 202,06 ton. Sebaliknya, konsumsi perhiasan anjlok 37,1% menjadi 84,62 ton.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20.000, Tembus Rp2,819 Juta per Gram
Baca Juga: Harga Emas Dunia Diproyeksi Bergerak Fluktuatif Pekan Depan
"Asosiasi menyatakan permintaan investasi terhadap emas tetap kuat, dengan emas batangan dan koin menjadi produk investasi yang semakin populer. Penjualan emas batangan melalui kanal perbankan juga meningkat signifikan," tulis CGA dalam pernyataan resmi, dikutip Senin (11/6).
Berdasarkan data World Gold Council, China masih menjadi produsen emas terbesar dunia dengan volume 380,2 ton pada 2024, disusul Australia dan Rusia. Di Asia, Indonesia menempati posisi kedua dengan produksi 140,1 ton, diikuti Filipina (38,8 ton) dan Turki (30,6 ton).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: