Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pemerintah Mulai Bahas Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju Sulawesi Barat

        Pemerintah Mulai Bahas Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju Sulawesi Barat Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, mengungkapkan wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, menjadi salah satu lokasi pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element (REE).

        Hal itu disampaikan Tri usai menghadiri pertemuan bersama Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto, dan sejumlah pejabat negara di BP BUMN, Selasa (12/5/2026).

        "Pembahasan ini aja, (terkait) Mamuju. Inilah, pengembangan seperti apa rare earth element kira-kira gitulah,'' ungkap Tri.

        Namun, Tri belum membeberkan lebih lanjut terkait detail pengembangan proyek tersebut. Ia menegaskan dirinya hanya hadir sebagai pihak yang diundang dalam pembahasan tersebut.

        ''Ya saya kan diundang, (soal LTJ Pak?) iya, (silahkan) ke Pak Bram,'' imbuhnya.

        Dalam catatan Warta Ekonomi, wilayah Mamuju memang menjadi salah satu kawasan yang memiliki potensi Logam Tanah Jarang. Kawasan tersebut bahkan masuk dalam delapan wilayah potensial pengembangan LTJ yang dipaparkan BIM ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

        Langkah pengembangan tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2025 tentang percepatan riset dan peningkatan nilai tambah mineral strategis guna memperkuat ekonomi nasional dan industri pertahanan.

        Berdasarkan data BIM, Blok Mamuju di Sulawesi Barat memiliki kandungan REE sekitar 2.000 ppm di area seluas 23.000 hektare. Sementara itu, Blok Bombana di Sulawesi Tenggara tercatat memiliki kandungan REE sebesar 220 ppm dan Antimony sekitar 6.170 ppm di lahan seluas 64.000 hektare.

        Kepala BIM Brian Yuliarto menegaskan pengembangan mineral strategis tersebut merupakan arahan langsung Presiden untuk mendukung kedaulatan bangsa, khususnya di sektor industri pertahanan.

        ''Kami mendapatkan permintaan dan arahan dari Bapak Presiden untuk kemudian melakukan pengembangan juga di beberapa mineral lain yang memiliki dampak atau sangat penting perannya untuk industri pertahanan, yaitu antara lain Antimon, Tungsten, dan Tantalum,” ujar Brian dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

        Baca Juga: PT Timah Gelar Groundbreaking Logam Tanah Jarang pada 20 Mei 2026

        Baca Juga: Ekspor RI Naik Tipis, Bijih Logam Meledak 8.000%

        Brian menjelaskan mineral strategis, termasuk LTJ, memiliki peran krusial dalam teknologi militer modern. Berdasarkan data BIM, tingkat ketergantungan industri pertahanan terhadap mineral tersebut sangat tinggi.

        Pada pesawat tempur, sekitar 70% hingga 80% subsistem bergantung pada mineral strategis. Sementara pada sistem rudal dan radar udara, tingkat ketergantungannya bahkan melampaui 80%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: