Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hantavirus Mengguncang! Prudential Syariah Ungkap Penyakit Menular Dorong Pertumbuhan Asuransi

        Hantavirus Mengguncang! Prudential Syariah Ungkap Penyakit Menular Dorong Pertumbuhan Asuransi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Prudential Syariah menilai meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap isu kesehatan global, mulai dari pandemi COVID-19 hingga kemunculan hantavirus, telah mendorong kenaikan kebutuhan terhadap perlindungan asuransi kesehatan. Di sisi lain, perusahaan menilai industri asuransi kini menghadapi tekanan inflasi biaya medis yang terus meningkat.

        Presiden Direktur Prudential Syariah Iskandar Ezzahuddin mengatakan perubahan perilaku masyarakat terhadap pentingnya proteksi kesehatan mulai terlihat sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis perusahaan.

        “Kalau kita lihat tahun 2020 saat muncul virus COVID, sejak saat itu kesadaran akan pentingnya memiliki asuransi kesehatan meningkat sangat tinggi. Dan kalau kita lihat, itu menjadi salah satu pendorong pertumbuhan perusahaan kami sendiri,” ujar Iskandar dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

        Menurut dia, meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap penyakit menular dan ketidakpastian kesehatan global turut memengaruhi pertumbuhan bisnis asuransi kesehatan syariah.

        “Bisnis baru kami tumbuh 31%, sementara pasar secara keseluruhan hanya tumbuh 13%. Sebagian besar pertumbuhan itu terjadi karena meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perlindungan kesehatan akibat COVID, tetapi juga karena adanya ketidakpastian terkait kondisi kesehatan,” katanya.

        Iskandar menyebut munculnya berbagai isu penyakit menular, termasuk hantavirus, membuat masyarakat semakin mempertimbangkan pentingnya perlindungan kesehatan jangka panjang.

        “Kita bicara tentang COVID, kita bicara tentang hantavirus, dan sekarang masyarakat merasa berbagai hal menjadi sedikit lebih mengkhawatirkan. Jadi ada kebutuhan untuk memiliki perlindungan tertentu,” ujarnya.

        Di tengah meningkatnya permintaan tersebut, Prudential Syariah menyatakan terus mengembangkan produk perlindungan kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat. Namun perusahaan juga menyoroti meningkatnya inflasi medis sebagai tantangan utama industri asuransi.

        “Namun, salah satu tantangan terbesar yang kami hadapi di industri ini adalah meningkatnya permintaan terhadap layanan kesehatan, inflasi medis juga meningkat secara signifikan,” kata Iskandar.

        Ia menambahkan pengelolaan inflasi medis akan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri asuransi kesehatan nasional. Karena itu, Prudential Syariah mendukung langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menyiapkan perubahan arah pengembangan produk kesehatan.

        “Dan saya pikir pengelolaan inflasi medis akan menjadi kunci agar industri ini tetap berkelanjutan ke depannya. Karena itu kami sangat mendukung langkah OJK dalam melakukan sejumlah perubahan terkait arah pengembangan produk kesehatan ke depan,” ujarnya.

        Di sisi lain, hantavirus belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah masuk kategori zoonosis emergingberdasarkan dokumen resmi Kementerian Kesehatan RI. Penyakit tersebut dinilai berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

        Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah percaya informasi yang tidak terverifikasi.

        Baca Juga: Kemenkes Ungkap Fakta Penting soal Hantavirus Usai Kasus di Kapal Pesiar

        Baca Juga: Sudah Ada 23 Kasus Hantavirus, Puan Desak Pemerintah Siapkan Faskes di Daerah

        Baca Juga: Hantavirus Bikin Resah, Kemenkes Tegaskan Bukan Konspirasi

        “Masyarakat tentunya harus tenang. Tidak termakan hoaks. Kemudian, hantavirus ini jangan disamakan dengan COVID-19, jadi mohon dukungannya juga untuk memberikan informasi yang sesuai, sehingga masyarakat itu tenang,” kata Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).

        Kementerian Kesehatan menyebut gejala awal hantavirus meliputi demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Virus tersebut dapat menular melalui udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau saliva tikus.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: