AS Siap Gelontorkan Dana Lebih Rp1,6 Triliun Demi 'Runtuhkan' Sistem Komunisme di Kuba
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menawarkan bantuan kemanusiaan sebesar 100 juta dolar AS atau lebih dari Rp1,6 triliun kepada rakyat Kuba di tengah krisis ekonomi dan energi yang melanda negara tersebut.
Namun, bantuan itu juga dibarengi desakan Washington agar Kuba melakukan reformasi terhadap sistem komunis yang selama ini diterapkan pemerintah setempat.
Baca Juga: Xi Jinping Ancam Trump, Waspada China-AS Bisa Masuk Konflik!
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Tommy Pigott mengatakan pemerintah AS menilai sistem yang berjalan di Kuba saat ini hanya menguntungkan kelompok elite, sementara rakyat hidup dalam kesulitan ekonomi.
“AS terus mengupayakan reformasi yang berarti terhadap sistem komunis Kuba, yang hanya memperkaya kalangan elite dan membuat rakyat Kuba hidup dalam kemiskinan,” kata Pigott seperti dikutip Anadolu.
Menurut pemerintah AS, kondisi rakyat Kuba saat ini semakin berat akibat krisis bahan bakar dan pemadaman listrik yang meluas.
Krisis tersebut terjadi setelah embargo minyak AS diberlakukan pada 30 Januari lalu. Situasi itu membuat kebutuhan dasar masyarakat Kuba semakin sulit dipenuhi.
Pemerintah AS mengklaim bantuan kemanusiaan tersebut ditujukan langsung kepada masyarakat Kuba dan tidak akan disalurkan melalui institusi negara.
“Hari ini, kementerian luar negeri secara terbuka kembali menegaskan tawaran murah hati AS untuk memberikan tambahan bantuan kemanusiaan langsung sebesar USD 100 juta kepada rakyat Kuba,” ujar Pigott.
Bantuan itu rencananya akan disalurkan melalui Gereja Katolik dan organisasi kemanusiaan independen lainnya.
Namun, pemerintah Kuba membantah adanya tawaran bantuan tersebut. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla bahkan menyebut klaim bantuan 100 juta dolar AS itu sebagai “dongeng dan kebohongan”.
Baca Juga: Begini Cara Kapal Jepang Bisa Lolos Melintasi Selat Hormuz di Tengah Perang Iran-Amerika Serikat
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump terus meningkatkan tekanan politik terhadap Kuba. Trump bahkan beberapa kali menyebut Kuba sebagai “target berikutnya” setelah operasi militer AS terhadap Iran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: