- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Saat IHSG Bergejolak, Rosan Bicara Realita Pasar Modal: Bursa Pasti Ada Naik Turunnya
Kredit Foto: Dok. BPMI
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan gejolak di pasar modal merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari dinamika investasi. Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Danantara menyatakan tetap menggunakan pendekatan investasi jangka panjang dan tidak berfokus pada pergerakan pasar harian.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan Menurutnya, naik turunnya pasar merupakan bagian dari proses yang lazim terjadi dalam investasi pasar modal.
“Jadi kami dari Danantara melihat ini ya memang di bursa pasti ada ups and downs-nya. Tapi kita lihat kembali lagi, pertama dari fundamental perusahaan kami ini baik, mempunyai yield yang tinggi, pricing saat ini sangat baik,” ujar Rosan, saat mendampingi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ia menegaskan pendekatan investasi Danantara tidak didasarkan pada pergerakan pasar dalam jangka pendek, melainkan mempertimbangkan prospek jangka panjang.
“Nah tetapi memang kalau kita lihat oh hari ini, besok, ada seminggu lagi kan approach kita itu bukan harian. Approachkita itu bukan bulanan. Approach kita itu jangka panjang,” katanya.
Baca Juga: Rosan Klaim Investasi Sumbang 32% dari Total Pertumbuhan Ekonomi 5,61% di Kuartal I
Baca Juga: IHSG Anjlok 3% Usai Dasco Sidak ke BEI, 639 Saham Melemah
Menurut Rosan, secara fundamental sejumlah emiten BUMN yang tercatat di pasar saham masih memiliki prospek imbal hasil yang menarik. Ia mencontohkan emiten Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan sektor mineral yang dinilai memiliki yield di atas 10–11%.
“Kalau kita lihat bahwa BUMN yang ada di bursa, kalau kita lihat secara satu per satu contohnya Himbara ataupun mineral itu yield-nya juga sangat baik di atas 10-11 persen,” ujarnya.
Selain itu, Rosan menilai sejumlah saham BUMN, terutama sektor perbankan, masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah.
“Apalagi misalnya kalau kita lihat perbankan dari price to book-nya is below 1% yang di mana kalau keadaan normal itu above 2, above 3%. Jadi definitely there’s a potential upside,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI yang dinilai terus melakukan penyempurnaan pasar modal melalui berbagai kebijakan afirmatif.
“Kalau kita lihat lagi dengan, saya mesti kasih apresiasi ke OJK dan bursa dengan beberapa affirmative action-nya dalam rangka terus menyempurnakan bursa kita menjadi lebih baik, lebih transparan, lebih governance, to deepen also our capital market,” ujarnya.
Baca Juga: Sebut Pelemahan IHSG Masih Wajar, OJK: Bursa Lain Turun Lebih Dalam
Baca Juga: IHSG Berpotensi Ambruk Lagi Gegara Efek Keputusan FTSE, BEI: Konsekuensi yang Mesti Diterima
Rosan menambahkan jumlah investor pasar modal domestik saat ini juga terus bertumbuh. Ia menyebut total investor ritel Indonesia telah mencapai 26–27 juta, meningkat dari sekitar 20 juta investor pada tahun sebelumnya.
“Tadi kita di dalam sampaikan bahwa total investor kita retail kita sudah 26–27 juta. Dan ini kan adalah satu peningkatan dibanding tahun lalu yang 20 juta. Jadi ada 6 juta,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri