Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini Rabu (20/5/2026). Berdasarkan data perdagangan pukul 09.01 WIB, IHSG turun 74,48 poin atau 1,17% ke level 6.296.
Pada pembukaan pasar, IHSG sempat berada di level 6.352 sebelum langsung bergerak turun mendekati level terendah harian di 6.295. Sementara posisi tertinggi indeks pada awal sesi tercatat di 6.355.
Pelemahan indeks terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah. Tercatat sebanyak 335 saham melemah, dibandingkan 122 saham menguat, dan 191 saham stagnan.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 804,02 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp461,57 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 79.903 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp10.973,9 triliun.
Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan berdasarkan analisa teknikal, IHSG masih terlihat oversold berdasarkan indikator RSI dan sudah berhasil menguji target “wave 5 / A”. Meskipun demikian, terdapat support pada “wave 5 / A alt.” yang bisa dicermati. Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami penaikan.
"Fokus utama investor tertuju pada pidato arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo dalam sidang paripurna DPR pada pagi hingga siang ini," kata Nafan dalam analisisnya.
Investor menantikan kejelasan terkait arah kebijakan fiskal strategi menjaga stabilitas makro, serta langkah konkret pemerintah dalam merespons tekanan pasar keuangan. Apabila pidato ini memberikan kepastian dan keberpihakan pada stabilitas pasar, peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar.
"Sebaliknya, bila dinilai kurang konkret, tekanan jual bisa berlanjut," ungkap dia.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur pada siang ini, khususnya dalam menetapkan BI-Rate. BI sejatinya tidak akan mengorbankan ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan stabilitas fiskal hanya untuk merespons pelemahan Rupiah secara reaktif via suku bunga, melainkan lebih memilih intervensi pasar secara langsung.
"Oleh sebab itu, forecast kami untuk BI-Rate ialah tetap pada level 4,75% di tengah konsensus yang menetapkan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 5.00% seiring dengan melemahnya nilai tukar Rupiah yang menyentuh level Rp17.706 per USD," ungkap dia.
Baca Juga: Mensesneg Pastikan Presiden Prabowo Akan Hadiri Rapat Paripurna DPR Besok
Baca Juga: Prabowo Bakal Sampaikan Langsung KEM-PPKF 2027, Purbaya: Ini Sejarah untuk Pertama Kali
Dari global, dinamika tensi geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi market, dimana Presiden Trump menegaskan bahwa negosiasi serius sedang berlangsung dan diharapkan bahwa kesepakatan akan tercapai dapat diterima AS, serta semua negara di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Teheran juga menyerukan agar pasukan AS meninggalkan wilayah yang berdekatan dengan Iran, serta pencabutan sanksi, pencairan dana, dan pengakhiran blokade Amerika terhadap berbagai pelabuhan Iran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: