Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BYD Makin Dekat dengan F1, Apakah Teknologi Mesinnya Cocok?

BYD Makin Dekat dengan F1, Apakah Teknologi Mesinnya Cocok? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kabar masuknya BYD dalam ajang Formula 1 (F1) menguat setelah adanya pertemuan perwakilan BYD dengan petinggi olahraga balap paling bergengsi tersebut. Meski belum ada keputusan resmi, komunikasi yang terjalin sepanjang 2026 semakin memperkuat spekulasi.

Terbaru, Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, bertemu dengan CEO F1 Group, Stefano Domenicali, pada 5 Juni 2026 dan Presiden FIA, Mohamed Ben-Sulayem, sehari kemudian saat berlangsungnya Grand Prix Monako. Pertemuan tersebut terbuka karena Ben-Sulayem membagikan foto bersama Stella Li melalui akun media sosial pribadinya.

Pada akhir Desember 2025, Stella Li juga sudah bertemu Presiden FIA dalam ajang Grand Prix Abu Dhabi. Sementara pada Maret 2026, muncul kabar bahwa BYD tengah mencoba itung-itungan peluang masuk ke Formula 1 dan World Endurance Championship (WEC).

Minat semakin terlihat ketika pada April lalu BYD mengonfirmasi sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan peran di Formula 1. Konfirmasi tersebut muncul setelah Stella Li mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu Stefano Domenicali di Shanghai.

Selain kemungkinan bergabung sebagai peserta atau mitra teknis, rumor yang sempat beredar adalah bahwa BYD menjadi bagian pihak yang berminat mengakuisisi sebagian dari 24 persen saham Alpine F1 Team bersama Mercedes-Benz.

Rumor lain menyebut BYD berpotensi menjalin kerja sama dengan Christian Horner yang telah meninggalkan Red Bull Racing. Stella Li diketahui sempat bertemu Horner dalam Festival Film Cannes.

Meski demikian, peluang nyata BYD untuk masuk ke Formula 1 masih belum jelas. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arah pengembangan teknologi F1 yang dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan fokus bisnis perusahaan.

BYD dikenal sebagai produsen kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV), yang mencakup mobil listrik murni dan kendaraan hybrid. Sementara itu, Formula 1 saat ini tengah mengkaji penggunaan mesin V8 berbahan bakar bensin dengan komponen elektrifikasi yang jauh lebih kecil mulai 2031. Rencana tersebut dianggap bertolak belakang dengan strategi elektrifikasi yang selama ini menjadi identitas utama BYD.

Di sisi lain, Formula 1 masih mempertahankan unsur teknologi listrik yang cukup besar dalam regulasi terbaru. Mulai musim 2026, F1 menerapkan perubahan signifikan pada unit tenaga dengan peningkatan kontribusi tenaga listrik hingga sekitar 50 persen dari total tenaga mobil.

Komponen MGU-K yang berfungsi mengubah energi kinetik menjadi tenaga listrik kini mampu menghasilkan hingga 350 kW tenaga ke roda belakang, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan generasi sebelumnya yang hanya mencapai 120 kW. Sistem tersebut dipadukan dengan mesin V6 turbocharged 1,6 liter berbasis pembakaran internal.

Baca Juga: AS Mengamuk! Alibaba, BYD, dan Baidu Serentak Masuk Daftar Hitam Militer Pentagon

Apabila BYD benar-benar memutuskan bergabung, perusahaan tersebut akan menjadi salah satu pendatang baru terbesar di Formula 1 dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran mereka akan mengikuti langkah tim yang didukung oleh General Motors melalui merek Cadillac yang melakukan debut pada 8 Maret.

BYD juga bukan satu-satunya produsen otomotif asal China yang mulai melirik dunia motorsport internasional. Produsen otomotif Chery disebut sedang mempertimbangkan partisipasi di balapan 24 Hours of Le Mans, sementara Nio telah berkompetisi di Formula E selama lebih dari satu dekade.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: