Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Permintaan Minyak Tembus 113 Juta Barel, Bos Petronas Wanti-wanti Investasi Hulu Makin 'Loyo''

        Permintaan Minyak Tembus 113 Juta Barel, Bos Petronas Wanti-wanti Investasi Hulu Makin 'Loyo'' Kredit Foto: Bakrie Global
        Warta Ekonomi, Tangerang -

        President & CEO Petronas, Tengku Muhammad Taufik, menyoroti tantangan besar yang membayangi industri energi global. Di tengah tren dekarbonisasi, dunia justru diprediksi akan menghadapi lonjakan permintaan minyak mentah yang signifikan, namun tidak dibarengi dengan kekuatan investasi di sektor hulu.

        Taufik mengungkapkan bahwa pertumbuhan permintaan minyak dunia diperkirakan melonjak dari kisaran 100 juta barel per hari (bph) menjadi 113 juta bph. Sayangnya, lonjakan permintaan ini justru berbarengan dengan penurunan minat investasi pada aset-aset konvensional.

        “Tadi ditunjukkan bahwa dunia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan permintaan minyak dari 100 menjadi 113 juta barel per hari. Namun, investasi minyak hulu, jika ditelusuri lebih dalam, turun 6% pada 2025. Ini adalah penurunan tahun-ke-tahun pertama sejak pandemi COVID,” ungkap Taufik dalam IPA Convex di ICE BSD Tangerang, Rabu (20/5/2016).

        Penurunan investasi hulu yang kini berada di bawah level US$600 miliar menciptakan tantangan operasional yang berat. Taufik memaparkan sebuah realitas pahit: mayoritas modal yang dikucurkan perusahaan migas saat ini habis hanya untuk menjaga level produksi agar tidak anjlok, bukan untuk mencari sumber cadangan baru.

        “Hampir 90% investasi hulu tahunan sejak 2019 digunakan hanya untuk mengimbangi penurunan produksi. Bukan untuk sumber daya baru, bukan untuk memenuhi pertumbuhan permintaan baru,” jelasnya.

        Menurutnya, industri saat ini dipaksa melakukan tiga hal berat secara bersamaan: mempertahankan pasokan eksisting, mengembangkan sumber daya baru, dan melakukan dekarbonisasi operasional. "Semua itu secara bersamaan membuat aritmetika dasarnya menjadi sangat sulit," tambahnya.

        Baca Juga: Pemerintah Jamin Harga BBM Tidak Naik Meski Minyak Mentah RI Tembus US$117 per Barel

        Baca Juga: Bos Mubadala Sebut Blok Andaman Bisa Ubah Peta Energi Indonesia

        Kondisi ini kian menantang karena Taufik menilai lingkungan harga dalam beberapa tahun terakhir tidak sepenuhnya mendukung kelayakan finansial untuk proyek-proyek baru yang membutuhkan modal raksasa.

        Indonesia Sebagai Jantung Energi ASEAN

        Taufik juga menyinggung posisi strategis Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebagai pusat gravitasi permintaan energi dunia. Dengan PDB mencapai US$1,5 triliun pada 2024 dan populasi mendekati 300 juta jiwa, kebutuhan energi Indonesia dipastikan terus meroket.

        Namun, ia mengingatkan adanya tantangan nyata di lapangan terkait operasional. Dalam kutipannya, ia merespons tema besar yang diangkat oleh asosiasi dalampertemuan tersebut.

        “Tema yang disampaikan ‘the end of easy energy’ (berakhirnya energi yang mudah). Ini merupakan deskripsi yang sangat tepat mengenai lingkungan operasional yang kini saya dan rekan-rekan saya hadapi. Ini benar-benar merupakan akhir dari energi sebagaimana yang kita kenal selama ini,” ujar Taufik.

        Sebagai strategi menghadapi risiko biaya yang tinggi, Petronas mulai mengimplementasikan model kemitraan baru di Indonesia, salah satunya melalui kolaborasi dengan perusahaan energi asal Italia, ENI.

        Baca Juga: Medco Energi Cetak Produksi Migas 170 Mboepd di Kuartal I 2026

        “Kami telah memulai model bisnis satelit pertama bersama mitra kami ENI. Ini mengonsolidasikan aset hulu terpilih di Malaysia dan Indonesia dalam struktur operasi bersama untuk menciptakan nilai tambah,” jelasnya.

        Taufik menegaskan bahwa kunci keberhasilan industri ke depan bukan lagi soal skala besar perusahaan, melainkan disiplin modal dan keberanian melakukan kolaborasi lintas batas negara demi menjamin ketahanan energi generasi mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: