Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Turun Saat Presiden Bicara, Melonjak Usai Pidato Selesai

        IHSG Turun Saat Presiden Bicara, Melonjak Usai Pidato Selesai Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Zulfery Yusal Koto atau akrab disapa Ferry Koto menyoroti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR, Rabu (20/5/2026).

        Melalui akun X pribadinya, Ferry Koto mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan IHSG sempat turun ketika Presiden mulai berpidato, lalu kembali naik menjelang pidato selesai. Menurutnya, hal itu mencerminkan reaksi pasar yang menunggu kepastian dari isi pidato.

        “Saat Presiden mulai pidato IHSG turun, Presiden mau selesai pidato baru naik lagi. Ini mungkin semua menyimak seksama saat Presiden pidato, setelah yakin isi pidatonya bagus, optimis, baru IHSG terbang. Bukan begitu?” tulisnya, Rabu (20/5/2026).

        Untuk diketahui, pada penutupan perdagangan sore hari ini, Rabu, 20 Mei 2026, IHSG resmi ditutup melemah di level 6.318,50. IHSG terpantau mengalami koreksi sebesar 0,82% atau turun 52,18 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya di level 6.370,67.

        Sepanjang hari ini, indeks bergerak sangat fluktuatif di rentang batas bawah (low) 6.215,56 hingga batas atas (high) 6.459,56.

        Sementara itu, dalam pidato di Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (20/5), Presiden Prabowo memaparkan arah kebijakan ekonomi nasional tahun 2027 melalui Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF). Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa pendapatan negara dalam APBN 2027 ditargetkan mencapai 11,82 hingga 12,40 persen dari produk domestik bruto (PDB).

        Sementara itu, belanja negara direncanakan berada pada kisaran 13,62 hingga 14,80 persen PDB guna mendukung berbagai program prioritas pemerintah.

        “Dari sisi pembiayaan, defisit kita di tahun 2027, defisit APBN akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB. Kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini,” kata Presiden dalam Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.

        Selain menjaga disiplin fiskal, pemerintah juga menargetkan stabilitas sektor keuangan dan moneter nasional. Suku bunga surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun dijaga pada kisaran 6,5 hingga 7,3 persen.

        “Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada pada rentang 16.800 rupiah hingga 17.500 rupiah. Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia. Inflasi akan kami jaga tetap pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen,” ucapnya.

        Pada sektor energi, Kepala Negara menyampaikan bahwa harga minyak mentah Indonesia diperkirakan berada pada rentang 70 hingga 95 dolar Amerika Serikat per barel. “Selanjutnya, lifting minyak bumi ditargetkan 602 hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas 934 hingga 977 ribu barel setara minyak bumi per hari,” jelasnya.

        Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, Presiden meyakini bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen di tahun 2027. Pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen tahun 2029 tersebut, menurut Presiden, harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat secara nyata.

        Baca Juga: Publik Tercengang, Prabowo Bongkar Rp6.000 Triliun Bocor ke Asing

        Baca Juga: Prabowo Spill Akal-akalan Birokrasi yang Bikin Pengusaha Sengsara, Golkar Ikut Disindir

        “Karena itu, angka kemiskinan ditargetkan turun ke rentang 6,0 hingga 6,5 persen dari target sebelumnya 6,5 hingga 7,5 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka harus turun pada rentang 4,30 hingga 4,87 persen dari target sebelumnya 4,44 hingga 4,96 persen,” katanya.

        “Rasio gini ditargetkan semakin membaik pada rentang 0,362 hingga 0,367 dari target sebelumnya 0,377 hingga 0,380. Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin melebar bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit,” tambahnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: