Indonesia Siap Ekspor Pekerja, SMK Khusus Kerja di Luar Negeri Diresmikan Pemerintah di Jawa Timur
Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Tingginya minat bekerja di luar negeri direspons Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5).
Peluncuran yang dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti; Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa; serta Dirjen Dikmen Diksus, Tatang Muttaqin, ini digelar bersamaan dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang siap terbang ke luar negeri.
Berbeda dengan program biasa, program ini hadir dengan konsep "tahun ekstra" yang tidak main-main. Jika SMK umumnya menempuh waktu tiga tahun, program Kelas 3+1 menambahkan satu tahun khusus untuk membekali siswa dengan hal yang sering terlupakan, yaitu jiwa kemanusiaan dan hukum.
Dirjen Dikmen Diksus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa program ini adalah jembatan internasional yang mulai dirancang sejak 2025 lalu.
"Bekerja di luar negeri tentu tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar hidup mandiri dan menjadi duta serta membawa nama baik bangsa. Tambahan satu tahun ini membuat murid SMK benar-benar siap, baik secara mental, bahasa, termasuk hukum dan hak-hak perlindungan tenaga migran Indonesia di negara tujuan," tegasnya.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menambahkan bahwa kebijakan ini bukan sekadar soal penempatan kerja, melainkan pemenuhan hak konstitusi. "Setiap warga negara berhak mendapat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan," ujarnya.
Namun, yang paling menarik adalah bagaimana sekolah-sekolah di lapangan mulai "militerisasi mental" para calon pekerja migran ini. Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Kusdarmadi, mengungkapkan bahwa persiapan tiga tahun saja dirasa masih sangat kurang. Karena itu, sekolahnya telah menggandeng TNI untuk melatih fisik dan kedisiplinan, serta tim psikologi untuk memperkuat mental.
"Kami sudah sejak 2019 mengirimkan lulusan ke Jepang, mulai dari pertanian, industri, hingga caregiver. Dengan program 3+1 ini, kami harap semakin banyak murid yang berangkat karena memang sangat menjanjikan," kata Kusdarmadi.
Sambutan hangat juga datang dari Kepala SMKN 1 Buduran, Sidoarjo, Agustina. Menurutnya, minat siswa ke luar negeri meningkat tajam, namun selama ini penyiapan belum maksimal.
"Dengan program ini, kami bisa benar-benar menyiapkan murid lebih awal. Sejak kelas 10 sudah bisa dimulai. Ini solusi nyata untuk meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK menuju Indonesia Emas 2045," pungkas Agustina.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat