Iran Serang Balik Pangkalan AS, Kuwait Langsung Hadapi Rudal dan Drone
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Ketegangan di Timur Tengah makin memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan udara milik Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan militer AS di wilayah selatan Iran. Situasi langsung membuat Kuwait berada dalam status siaga menghadapi ancaman rudal dan drone.
IRGC menyebut serangan dilakukan setelah militer AS menggempur lokasi di sekitar Bandara Bandar Abbas menggunakan proyektil udara. Iran menegaskan pangkalan udara Amerika yang disebut menjadi sumber serangan langsung dijadikan target balasan beberapa jam kemudian.
“Menyusul agresi pagi ini oleh militer AS, pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan tersebut telah menjadi sasaran,” demikian pernyataan IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Iran memang tidak mengungkap lokasi pangkalan AS yang diserang. Namun, situasi regional langsung memanas setelah militer Kuwait mengaku sedang menghadapi serangan rudal dan drone pada Kamis pagi waktu setempat.
“Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh,” tulis militer Kuwait melalui media sosial X. Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa konflik mulai meluas ke kawasan Teluk.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran juga dilaporkan melepaskan tembakan peringatan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menyebut empat kapal dipaksa berbalik arah setelah memasuki wilayah tanpa koordinasi dengan otoritas keamanan Iran.
Kantor berita Tasnim bahkan melaporkan Angkatan Laut IRGC sempat menembakkan peringatan ke arah kapal tanker minyak Amerika. Langkah itu disebut membuat kapal tersebut akhirnya memutar balik dari kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Tak Butuh Waktu Lama untuk Balas 'Serangan Kejutan' dari Amerika, Pangkalan Udara Jadi Target
Eskalasi terbaru ini menjadi sinyal konflik Iran dan AS kini mulai bergerak ke jalur strategis internasional. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia sehingga setiap ketegangan di kawasan itu berpotensi mengguncang pasar energi global.
Serangan balasan Iran dan meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk juga memicu kekhawatiran perang regional semakin sulit dikendalikan. Apalagi sejumlah negara sekutu AS di Timur Tengah kini mulai meningkatkan kesiagaan militernya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: