Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nyaris Sentuh Rp18.000, Ekonom Sebut Rupiah Memikul Banyak Beban Berat

        Nyaris Sentuh Rp18.000, Ekonom Sebut Rupiah Memikul Banyak Beban Berat Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.800 per dolar AS di pasar offshore atau luar negeri mulai memicu kekhawatiran.

        Di tengah kondisi tersebut, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai rupiah kini sedang memikul beban ekonomi yang jauh lebih besar dibanding indikator lainnya.

        Menurut Fakhrul, tekanan terhadap rupiah terjadi karena pemerintah memilih menahan gejolak harga domestik demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sosial. Akibatnya, tekanan ekonomi global yang seharusnya tersebar ke berbagai sektor justru terkonsentrasi di pasar valuta asing.

        “Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” kata Fakhrul, dikutip dari Antara, Jumat (29/5).

        Ia menjelaskan, dalam kondisi normal kenaikan harga energi global biasanya akan berdampak langsung terhadap inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar. Namun karena penyesuaian harga di dalam negeri dilakukan sangat hati-hati, maka rupiah menjadi pihak yang paling banyak menanggung tekanan tersebut.

        Baca Juga: Purbaya Berkelakar Ngaku Stres Rupiah Sentuh Rp17.800: Kan Ekonomi Bagus

        Menurut Fakhrul, kondisi itu membuat pelemahan rupiah saat ini terlihat jauh lebih ekstrem dibanding sejumlah indikator ekonomi lainnya. Ia bahkan menyebut situasi tersebut relevan dengan teori Dornbusch Overshooting, yakni ketika harga domestik cenderung rigid sementara pasar keuangan bergerak sangat cepat.

        “Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” ujarnya.

        Fakhrul mengatakan fenomena semacam ini cukup sering terjadi di negara berkembang yang berupaya menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek. Indonesia sendiri saat ini disebut menghadapi dilema besar antara menjaga daya beli masyarakat atau mempertahankan stabilitas eksternal.

        Ia memahami keputusan pemerintah yang memilih menahan penyesuaian harga energi dari sisi sosial dan politik. Namun konsekuensinya, tekanan ekonomi akhirnya lebih banyak menumpuk di sektor keuangan.

        “Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” imbuh dia.

        Meski rupiah tertekan, Fakhrul menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lainnya. Inflasi domestik disebut masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi juga masih positif.

        Namun demikian, ia mengingatkan pasar global saat ini tidak hanya melihat angka-angka makro ekonomi semata. Menurutnya, investor juga mencermati arah dan konsistensi kebijakan pemerintah dalam menghadapi tekanan global yang semakin tidak menentu.

        “Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” ujar dia.

        Baca Juga: Kurs Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Dua Penyebab Utamanya

        Lebih jauh, Fakhrul menilai yang sedang diuji saat ini bukan sekadar fundamental ekonomi, melainkan juga kredibilitas kebijakan pemerintah. Faktor global seperti geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, hingga tingginya imbal hasil US Treasury memang ikut memberi tekanan besar terhadap rupiah.

        Akan tetapi, ia menilai faktor domestik juga tidak bisa diabaikan. Pasar disebut melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter, ditambah komunikasi kebijakan yang kerap muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang sedang negatif.

        “Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: