Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Prabowo Bikin Indonesia Jadi Bahan Perbincangan Global, Tapi Sayangnya...

        Prabowo Bikin Indonesia Jadi Bahan Perbincangan Global, Tapi Sayangnya... Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peneliti dan pengamat politik Saidiman Ahmad mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa Indonesia menjadi bahan perbincangan dunia, namun sayangnya dalam tone negatif.

        Majalah asal Inggris, The Economist, dalam  empat minggu terakhir memuat tiga publikasi tentang Indonesia. Artikel tersebut berisi kritik tajam terhadap pemerintahan Prabowo.

        "Dalam empat minggu terakhir, 3 edisi The Economist memuat publikasi tentang Indonesia. Prabowo berhasil membuat Indonesia jadi bahan perbincangan dunia. Sayang bahwa perbincangan itu dalam nada negatif," tulis Saidiman di akun X pribadinya, Minggu (31/5).

        Sebagai informasi, The Economist menyoroti risiko makroekonomi, fiskal, dan stabilitas demokrasi di bawah kepemimpinan Prabowo. 

        Berikut rincian tiga publikasi yang menjadi bahan perbincangan dunia:

        1. Edisi Pemimpin (Leaders) - 14 Mei 2026

        Judul Artikel: "Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country, Is on a Risky Path"

        Fokus Kritik: Artikel ini memperingatkan bahwa Indonesia tengah melangkah di jalur yang berisiko. The Economist menyoroti bahwa kombinasi antara penguatan intervensi negara, pelonggaran disiplin anggaran, dan konsolidasi kekuatan politik yang terlalu berpusat pada presiden dapat mengancam stabilitas nasional.

        2. Edisi Taklimat (Briefing) - 14 Mei 2026

        Judul Artikel: "Indonesia's President Is Jeopardising the Economy and Democracy"

        Baca Juga: Pilihan Politik Jadi Dosa? Fenomena Maaf Pemilih Prabowo-Gibran

        Fokus Kritik: Dengan subjudul bernada menohok yang menyebut Prabowo "too spendthrift and too authoritarian" (terlalu boros dan terlalu otoriter), laporan ini mengkritik program-program populis yang dinilai menguras ruang fiskal negara. Mereka menyoroti pembengkakan defisit anggaran, peminggiran oposisi legislatif, serta pemberian ruang yang semakin besar bagi militer dalam urusan sipil yang dinilai berpotensi membalikkan capaian era reformasi.

        3. Edisi Asia - 28 Mei 2026

        Judul Artikel: "Indonesia's Erratic President Grabs the Country's Commodity Exports"

        Fokus Kritik: Artikel edisi terbaru ini secara spesifik menyerang kebijakan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang ditunjuk untuk memonopoli ekspor komoditas prioritas (batu bara, sawit, nikel) mulai Juni 2026. The Economist menilai langkah "kapitalisme negara" ini sebagai kebijakan yang tergesa-gesa, mengabaikan mekanisme pasar, membingungkan pelaku usaha, dan justru berisiko mengurangi penerimaan pajak negara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: