Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah Jadi Berkah, Bule Jadi Betah di Indonesia

        Rupiah Melemah Jadi Berkah, Bule Jadi Betah di Indonesia Kredit Foto: Antara/Fikri Yusuf
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai membawa peluang bagi sektor pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata melihat kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara karena biaya berwisata menjadi relatif lebih murah dibanding destinasi lain.

        Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pelemahan rupiah justru dapat menjadi keuntungan bagi Indonesia dalam menarik lebih banyak wisatawan asing. Menurutnya, kurs yang lebih kompetitif membuat Indonesia semakin menarik untuk dikunjungi oleh pelancong dari berbagai negara.

        “Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Ni Luh Puspa dalam ajang Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung.

        Selain berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan, pelemahan rupiah juga diyakini dapat mendorong wisatawan menghabiskan waktu lebih lama selama berada di Indonesia. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi meningkatkan belanja wisatawan dan mendongkrak devisa sektor pariwisata.

        Ni Luh menilai wisatawan akan memperoleh nilai lebih besar dari uang yang mereka keluarkan ketika berlibur di Indonesia. Situasi itu membuat destinasi-destinasi wisata domestik semakin kompetitif dibanding negara lain di kawasan.

        “Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” ujarnya.

        Untuk memaksimalkan peluang tersebut, Kementerian Pariwisata terus menggencarkan promosi di berbagai pasar internasional. Upaya itu dilakukan melalui misi penjualan, partisipasi dalam pameran wisata, hingga penguatan kerja sama dengan pelaku industri pariwisata global.

        Di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik dunia, pemerintah berupaya memastikan Indonesia tetap menjadi pilihan utama wisatawan asing. Strategi tersebut juga diarahkan untuk menjaga tren positif kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun ini.

        Menurut Ni Luh, gejolak nilai tukar rupiah tidak bisa dilepaskan dari perkembangan situasi global, termasuk konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Meski demikian, sektor pariwisata Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.

        Data Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari hingga Maret 2026 masih mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu menjadi modal positif untuk mengejar target kunjungan dan devisa sepanjang tahun ini.

        Pemerintah berharap tren tersebut terus berlanjut pada triwulan kedua 2026. Selain peningkatan jumlah wisatawan, sektor pariwisata juga diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan devisa negara.

        Di sisi lain, Kementerian Pariwisata juga mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi pemasaran dengan kondisi global saat ini. Salah satunya dengan memperkuat pasar wisatawan dari negara-negara yang memiliki jarak lebih dekat ke Indonesia.

        Pasar short-haul dan medium-haul dinilai memiliki potensi besar untuk menutup penurunan kunjungan dari kawasan yang terdampak konflik geopolitik. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya diversifikasi pasar wisatawan mancanegara.

        “Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” kata Ni Luh.

        Baca Juga: Nyaris Sentuh Rp18.000, Ekonom Sebut Rupiah Memikul Banyak Beban Berat

        Ia mengungkapkan wisatawan dari negara-negara tetangga dan kawasan Asia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, kunjungan wisatawan dari Timur Tengah mulai mengalami perlambatan akibat kondisi geopolitik yang belum stabil.

        Karena itu, pemerintah mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk tetap optimistis melihat peluang yang muncul di tengah berbagai tantangan global. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: