Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        SpaceX Diprediksi Akuisisi Intel Senilai Rp17.799 Triliun, Ini Alasan Strategis di Baliknya

        SpaceX Diprediksi Akuisisi Intel Senilai Rp17.799 Triliun, Ini Alasan Strategis di Baliknya Kredit Foto: Instagram/Elon Musk
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Persaingan di industri kecerdasan buatan kini telah melampaui sekadar perang perangkat lunak. Arena pertarungan kini merambah ke infrastruktur kelistrikan, pusat data, hingga yang paling krusial: chip semikonduktor.

        Di tengah dinamika itu, nama SpaceX milik Elon Musk mencuat dengan prediksi mengejutkan. Perusahaan antariksa tersebut diprediksi akan mengakuisisi Intel dengan nilai mencapai USD1 triliun atau setara Rp17.799 triliun.

        Angka itu memang terdengar fantastis. Kapitalisasi pasar Intel saat ini hanya berada di angka USD607 miliar, setelah bertahun-tahun menghadapi penurunan pangsa pasar dan kemunduran di sektor manufaktur.

        Namun, akuisisi strategis jarang hanya didasarkan pada pendapatan saat ini. Akuisisi tersebut didasarkan pada kendali di masa depan.

        Melansir 247Wallst, Intel memiliki sejumlah aset strategis yang sulit ditandingi. Pabrik fabrikasi yang sudah beroperasi di Amerika Serikat, keahlian semikonduktor selama puluhan tahun, puluhan ribu insinyur berpengalaman, serta jaringan hubungan kuat dengan para pejabat di Washington DC menjadi daya tarik utama.

        Aset-aset itu dinilai dapat mempercepat pembangunan pabrik semikonduktor SpaceX jauh lebih cepat dibanding membangun fasilitas baru dari nol. Inilah yang membuat nilai akuisisi Intel jauh melampaui angka pasar saat ini.

        Laporan terbaru juga menyebut Musk tengah mempertimbangkan penggabungan Tesla dan SpaceX menjadi satu konglomerat teknologi raksasa. Entitas gabungan itu berpotensi bernilai lebih dari USD3 triliun.

        Logika di balik rencana besar itu semakin mudah dipahami. Sistem penggerak otonom Tesla membutuhkan daya komputasi sangat besar. Jaringan satelit Starlink bergantung pada optimasi AI dan perangkat keras khusus. Perusahaan xAI milik Musk pun sedang membangun pusat data raksasa yang dipenuhi GPU.

        Baca Juga: Mata-Mata China Disebut Awasi Delegasi Amerika Serikat Saat Pertemuan Xi-Trump, Menyamar Dekat Elon Musk

        Bahkan ambisi Musk menjelajah Mars turut berkaitan erat dengan kebutuhan chip. Kendaraan otonom bertenaga listrik adalah solusi transportasi di Planet Merah yang tidak memiliki bahan bakar fosil.

        Semua lini bisnis Musk tersebut menghadapi satu tantangan yang sama: akses terhadap chip. Dengan menguasai Intel, kendali atas pasokan semikonduktor untuk seluruh ekosistem bisnis Musk, dari Tesla hingga SpaceX, bisa berada dalam satu genggaman.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Bagikan Artikel: