Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mata-Mata China Disebut Awasi Delegasi Amerika Serikat Saat Pertemuan Xi-Trump, Menyamar Dekat Elon Musk

Mata-Mata China Disebut Awasi Delegasi Amerika Serikat Saat Pertemuan Xi-Trump, Menyamar Dekat Elon Musk Kredit Foto: AFP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tuduhan mengejutkan muncul dari seorang blogger independen bernama Jennifer Zeng yang menuding pemerintah China menggunakan personel militer yang menyamar sebagai pelayan untuk memata-matai delegasi Amerika Serikat (AS) saat kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing.

Isu itu menjadi viral setelah Zeng mengunggah sejumlah foto dari jamuan kenegaraan Partai Komunis China yang digelar untuk menyambut Trump dan rombongannya.

Baca Juga: Xi Jinping Murka Usai Ledakan Tambang Batu Bara China Tewaskan 90 Orang

Dalam unggahannya, Zeng menyoroti seorang perempuan berbaju merah yang berdiri tepat di belakang Elon Musk selama acara berlangsung.

Ia mengklaim perempuan tersebut bukan pelayan biasa, melainkan seorang perwira aktif militer China bernama Cheng Cheng yang disebut memiliki jabatan penting dalam unit seremonial Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA.

“Standing next to Elon Musk was Cheng Cheng,” tulis Zeng dalam unggahannya di media sosial.

Zeng bahkan memunculkan spekulasi lebih jauh dengan menyebut perempuan itu kemungkinan membawa senjata tersembunyi di balik gaun merah yang dikenakannya saat acara berlangsung.

Namun hingga kini, tidak ada bukti independen yang dapat memverifikasi klaim tersebut.

Pemerintah China juga belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan itu.

Meski belum terbukti, isu ini kembali memicu perdebatan lama mengenai dugaan aktivitas spionase China terhadap pejabat asing, politisi Barat, hingga eksekutif perusahaan teknologi global.

Selama bertahun-tahun, sejumlah badan intelijen Barat memang menuduh Beijing menjalankan operasi pengumpulan informasi melalui berbagai jalur, mulai dari diplomasi, bisnis, hingga lingkungan teknologi.

Salah satu kasus yang sempat menghebohkan sebelumnya adalah dugaan operasi mata-mata “Fang Fang”, perempuan China yang disebut membangun jaringan pengaruh dengan mendekati sejumlah politisi Amerika Serikat.

Kasus terbaru ini menarik perhatian karena sosok seperti Elon Musk dianggap memiliki akses strategis terhadap teknologi sensitif, termasuk kecerdasan buatan, satelit, kendaraan listrik, hingga industri pertahanan luar angkasa.

Dalam dunia diplomasi modern, jamuan makan kenegaraan memang bukan sekadar acara seremoni. Acara seperti itu kerap dipandang sebagai ruang sensitif untuk membaca perilaku tamu, membangun kedekatan, hingga melakukan pengawasan secara halus.

Karena itu, muncul spekulasi bahwa sebagian staf acara resmi berpotensi berasal dari unsur keamanan negara.

Baca Juga: Donald Trump Ungkap Sumber Dana Perang Amerika Serikat-Iran

Meski demikian, seluruh tuduhan yang beredar sejauh ini masih sebatas klaim media sosial dan belum dikonfirmasi pemerintah, media independen, maupun lembaga intelijen resmi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar