Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Ditutup Anjlok 4,11% Usai Outlook Negatif Danantara dan Rupiah Sentuh Rp17.966

        IHSG Ditutup Anjlok 4,11% Usai Outlook Negatif Danantara dan Rupiah Sentuh Rp17.966 Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 4,11% ke level 5.941,07 pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah, serta penetapan outlook negatif Danantara Investment Management (DIM) oleh Moody’s Ratings.

        Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG sempat menyentuh level terendah 5.842 pada perdagangan intraday atau turun lebih dari 5% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 6.195,43. Meski sempat memangkas kerugian menjelang penutupan, indeks tetap berakhir di zona merah.

        Sebanyak 726 saham ditutup melemah, 75 saham menguat, dan 158 saham tidak berubah. Nilai transaksi mencapai Rp25,19 triliun dengan volume perdagangan 36,26 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,72 juta kali.

        Baca Juga: IHSG Terperosok Lebih dari 5%, Saham Konglomerat Jadi Biang Tekanan

        Baca Juga: Warganet Panik! IHSG Rontok ke 5.977, Rupiah Jebol 17.927 Usai Dadan Dicopot

        Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi kontributor utama pelemahan indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 5,15% ke level 5.525. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 4,61% menjadi 2.900, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,88% ke level 4.050.

        Di sektor nonperbankan, tekanan jual juga terlihat pada sejumlah saham unggulan. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ditutup merosot 15%, PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) turun 14,97%, dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) melemah 14,94%.

        Di tengah tekanan pasar saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga ditutup melemah. Mata uang Garuda terkoreksi 127 poin menjadi Rp17.966 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.839 per dolar AS.

        Pelemahan rupiah tersebut menambah tekanan terhadap aset berisiko domestik di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

        Sentimen lain yang menjadi perhatian pelaku pasar datang dari Moody’s Ratings yang menetapkan peringkat penerbit perdana Baa2 untuk Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif.

        Selain itu, Moody’s juga memberikan peringkat sementara (P)Baa2 untuk program medium-term notes (MTN) global tanpa jaminan senior yang dibentuk DIM serta peringkat Baa2 terhadap rencana penerbitan surat utang senior tanpa jaminan perusahaan tersebut.

        Baca Juga: Sempat Dibuka Hijau, IHSG Langsung Balik Arah ke Zona Merah

        Baca Juga: Rebalancing MSCI Bisa Jadi Titik Bottom IHSG

        “Peringkat penerbit Baa2 Danantara Investment Management dengan outlook negatif selaras dengan peringkat sovereignPemerintah Indonesia (Baa2 negatif), yang didukung oleh keterkaitan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikannya dalam kerangka kelembagaan Danantara serta ekspektasi kami terhadap dukungan luar biasa pemerintah yang tepat waktu apabila diperlukan,” kata Vice President dan Senior Analyst Moody’s Ratings Rachel Chua.

        Menurut Moody’s, peringkat DIM sejalan dengan peringkat utang Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan outlook negatif. Penilaian tersebut mencerminkan keterkaitan yang kuat antara profil kredit Danantara dan pemerintah sebagai pemegang kendali lembaga investasi negara tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: