Kredit Foto: PBRX
PT Pan Brothers Tbk (PBRX) mulai mengalihkan fokus strategi bisnisnya dari ekspansi kapasitas menuju peningkatan efisiensi operasional guna memperbaiki kinerja keuangan pada 2026.
Emiten tekstil dan garmen tersebut menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10% secara tahunan, setelah menghadapi tekanan bisnis dalam dua tahun terakhir.
Direktur Keuangan Pan Brothers, Fitri R. Hartono, mengatakan perseroan memilih pendekatan yang lebih konservatif dalam menyusun strategi bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika perdagangan internasional.
“Tahun 2026 kita masih memproyeksikan naik sedikit dari 2025 untuk sales-nya sekitar 10%. Untuk proses (keuntungan) kita tetap targetkan naik, khususnya pada bottom line operasional. Kami lebih suka fokus pada operasional,” ujar Fitri usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, prioritas utama perusahaan saat ini bukan menambah kapasitas produksi melalui pembangunan fasilitas baru, melainkan meningkatkan produktivitas aset yang sudah ada.
Langkah tersebut ditempuh melalui investasi pada teknologi otomatisasi dan digitalisasi proses produksi guna mendorong efisiensi biaya serta meningkatkan output pabrik.
“Kalau rencana ekspansi fisik seperti bangun pabrik baru itu tidak ada. Tapi di dalam pabrik sendiri, kita terus lakukan otomisasi dan digitalisasi dengan beberapa mesin dan software baru. Dengan begitu, kita berharap efisiensinya bisa naik. Jadi ekspansinya lebih ke output yang lebih efisien,” kata Fitri.
Baca Juga: Ekspansi ke Jawatengah, Linktown Bidik Penjualan Rp500 Miliar per Tahun
Baca Juga: PTMP Bidik Pertumbuhan 15% pada 2026, Fokus Ekspansi dan Teknologi
Strategi tersebut juga berkaitan dengan upaya perusahaan menjaga kebutuhan modal kerja pasca restrukturisasi. Sebagai produsen garmen berbasis pesanan (job order), Pan Brothers baru memulai proses produksi setelah menerima pesanan dari pemilik merek global.
Karena itu, pengelolaan modal kerja menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas dan kelancaran operasional perusahaan.
Selain fokus pada efisiensi, Pan Brothers juga mengaku relatif terlindungi dari gejolak nilai tukar karena memiliki struktur bisnis berbasis ekspor yang didominasi dolar AS.
Fitri menjelaskan sebagian besar pendapatan ekspor perseroan diterima dalam mata uang dolar AS, sementara mayoritas bahan baku yang digunakan juga dibeli menggunakan mata uang yang sama.
“Untuk mata uang, kita memang banyak pakai US Dollar karena penjualan ekspor menggunakan US Dollar. Tetapi pembelian bahan baku sebagian besar, sekitar 60% sampai 65%, juga menggunakan US Dollar. Jadi sebenarnya kita natural hedge,” ujarnya.
Meski demikian, perusahaan menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepastian bisnis dan hubungan dengan pembeli internasional.
“Isu utamanya adalah kestabilan. Kalau tidak stabil, buyer juga kadang menjadi khawatir,” tambah Fitri.
Dari sisi pasar, Pan Brothers masih mengandalkan ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia sebagai sumber utama pendapatan. Perseroan juga mulai menjalin kerja sama dengan sejumlah pembeli baru untuk mendukung pertumbuhan penjualan.
Baca Juga: PTMP Bidik Pertumbuhan 15% pada 2026, Fokus Ekspansi dan Teknologi
Baca Juga: HRTA Catat Volume Penjualan Emas 7,83 Ton di Q1 2026, Pendapatan Tembus Rp20,16 Triliun
Namun, manajemen menegaskan ekspansi pasar dilakukan secara selektif agar tidak membebani kebutuhan modal kerja.
“Penjajakan buyer baru ada beberapa, cuma secara nilai sales masih kecil karena baru mulai. Nilainya antara USD2 juta sampai USD3 juta. Kami harus konservatif, karena kalau mengambil order terlalu banyak, modal kerjanya juga harus dicukupkan. Jadi kami fokus pada kapabilitas yang ada dulu,” kata Fitri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: