Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi Dibilang Morat-Marit, Purbaya Bongkar Biang Kerok Sebenarnya: Bukan MBG atau Kopdes!

        Ekonomi Dibilang Morat-Marit, Purbaya Bongkar Biang Kerok Sebenarnya: Bukan MBG atau Kopdes! Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Di tengah berbagai sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru mengungkap faktor yang menurutnya lebih berpengaruh terhadap gejolak ekonomi dibandingkan program-program prioritas pemerintah. Ia menegaskan bahwa isu yang berkembang selama ini tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan di lapangan.

        Purbaya menilai tudingan bahwa program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi penyebab tekanan terhadap fiskal negara tidak memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, perhatian para pelaku ekonomi global justru tertuju pada sentimen pasar yang berkembang, bukan pada program-program tersebut.

        Dalam keterangannya, Purbaya mengungkapkan bahwa saat bertemu dengan S&P Global Ratings, pembahasan yang muncul bukanlah soal keberlanjutan program pemerintah, melainkan persepsi negatif yang beredar di pasar.

        “Yang dipertanyakan sebenarnya lebih kepada sentimen negatif di pasar. Kalau fondasi ekonomi dan fiskal, tidak ada masalah. Program-program pemerintah juga tidak dipertanyakan,” kata Purbaya di Kompleks DPR RI belum lama ini.

        Menurut dia, kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur yang aman. Pemerintah, lanjutnya, tetap mampu menjaga defisit anggaran pada kisaran 2 hingga 3 persen meskipun berbagai program prioritas terus dijalankan.

        Baca Juga: 'Ini Data Sebenarnya,' Menkeu Purbaya Tunjukkan Bukti Ekonomi Indonesia Jauh dari Krisis

        Ia menjelaskan bahwa pemerintah juga memiliki ruang yang cukup untuk melakukan penyesuaian kebijakan apabila terjadi tekanan eksternal, termasuk ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan.

        Purbaya menegaskan sejumlah program strategis pemerintah dirancang fleksibel sehingga implementasinya dapat disesuaikan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi keuangan negara.

        “Program-program itu bisa diatur dan disesuaikan. Jadi tidak perlu khawatir terhadap kondisi fiskal kita,” ujarnya.

        Oleh karena itu, Purbaya menyebut tantangan terbesar yang saat ini dihadapi justru berasal dari persepsi negatif yang berkembang mengenai perekonomian Indonesia. Menurutnya, persepsi tersebut kerap memengaruhi perilaku pelaku pasar meskipun kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.

        Ia menilai aktivitas ekonomi dalam negeri masih menunjukkan tren positif dan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan dengan baik. Namun, sentimen yang berkembang terkadang membuat sebagian pelaku pasar ikut terbawa kekhawatiran.

        “Ekonomi kita tumbuh cukup baik. Aktivitas ekonomi juga meningkat. Namun ketika muncul persepsi bahwa ekonomi akan memburuk, sebagian pelaku pasar ikut terpengaruh,” tuturnya.

        Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah berencana memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia. Langkah itu dilakukan agar kebijakan fiskal dan moneter semakin selaras dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.

        Baca Juga: Purbaya Tepis Narasi 'Sell Indonesia', Sebut Fiskal dan Ekonomi RI Tetap Kuat

        Menurut Purbaya, kerja sama antara pemerintah dan bank sentral selama ini sudah berjalan baik. Meski begitu, koordinasi tersebut akan terus diperkuat agar mampu meredam sentimen negatif yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional.

        “Kerja sama dengan bank sentral sebelumnya sudah baik, tetapi akan kami perkuat lagi,” tambah Purbaya.

        Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak melihat program-program prioritas seperti MBG maupun Kopdes Merah Putih sebagai sumber masalah ekonomi. Sebaliknya, Purbaya menilai persepsi negatif dan sentimen pasar justru menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: