Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG 2026 Lebih Parah dari Krisis Covid, Bisa Anjlok Lebih Dalam

        IHSG 2026 Lebih Parah dari Krisis Covid, Bisa Anjlok Lebih Dalam Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Penulis buku best seller tentang trading dan investasi, Desmond Wira, memperingatkan keseriusan pasar saham Indonesia saat ini yang dinilainya bahkan lebih berat dibanding krisis Covid tahun 2020.

        Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 41,57%, dari level tertinggi 6.693 ke terendah 3.911. Sedangkan pada 2026, IHSG sudah anjlok 42,04% per 8 Juni, dari level tertinggi 9.174 ke terendah 5.317. Bahkan menurutnya, penurunan ini masih bisa berlanjut lebih dalam.

        "Kejatuhan pasar saham IHSG tahun 2026 ternyata lebih parah dari anjlok pas Covid tahun 2020," tulis Dasmond di akun X pribadinya, dikutip Selasa (9/6).

        Padahal, menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat Covid jauh lebih buruk dibandingkan sekarang

        "2020: Ekonomi sempat kontraksi -2.07% (resesi pertama dalam 20+ tahun akibat lockdown, pembatasan mobilitas, dan penurunan konsumsi/investasi parah). Q2 bahkan minus ~5.3%. 2026: Ekonomi growth 5,61% di Q1 YOY. Tapi 2026 anjloknya lebih dalem," jelasnya.

        Ia menekankan bahwa pasar saham tidak selalu sejalan dengan kondisi ekonomi riil. "Memang pasar saham ≠ ekonomi. Bursa saham bisa bergerak berlawanan arah dengan kondisi ekonomi. Tapi tetep aja ngeselin," pungkasnya.

        Baca Juga: IHSG Dibuka Bergairah, Melesat 1,48% ke Level 5.421 di Awal Perdagangan

        Sebagai informasi, IHSG pagi ini terpantau bangkit (rebound) ke zona hijau di level 5.406,47 atau menguat sekitar 1,20 persen pada pukul 09.40 WIB. 

        Penguatan ini menjadi angin segar setelah indeks terpuruk selama empat hari beruntun hingga ditutup jatuh 4,52% ke level 5.342 pada perdagangan Senin (8/6), akibat guncangan sentimen eksternal dan risiko fiskal domestik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: