Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AS Kian Beringas! DPR Desak Alibaba dkk Ditendang dari Bursa Saham Usai Masuk Daftar Hitam

        AS Kian Beringas! DPR Desak Alibaba dkk Ditendang dari Bursa Saham Usai Masuk Daftar Hitam Kredit Foto: Alibaba Cloud
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tekanan politik terhadap raksasa teknologi dan otomotif asal China di Amerika Serikat dipastikan bakal semakin sengit.

        Menyusul keputusan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) memasukkan Alibaba, BYD, hingga Baidu ke dalam daftar hitam militer, Komite Khusus DPR AS urusan Partai Komunis China kini mendesak agar perusahaan-perusahaan tersebut segera didepak (delisting) dari bursa saham Amerika Serikat.

        Komite parlemen juga mengeluarkan peringatan keras kepada para pelaku usaha domestik AS untuk segera menyetop segala bentuk kerja sama dengan entitas yang masuk dalam daftar tersebut.

        Langkah tegas ini dinilai krusial agar perusahaan AS tidak secara tidak langsung ikut memperkuat dan memodernisasi pangkalan militer China.

        Meski secara hukum perusahaan-perusahaan yang masuk daftar ini masih diizinkan beroperasi di pasar AS, status baru dari Pentagon tersebut dinilai merusak reputasi global mereka secara instan.

        Dilaporkan oleh AP, status ini juga membuka celah lebar bagi pemberlakuan sanksi ekonomi dan pembatasan operasional yang jauh lebih ketat di masa depan.

        Dalam argumennya, Pentagon berdalih bahwa keputusan memasukkan Alibaba, BYD, dan Baidu didasarkan pada bukti bahwa ketiganya terafiliasi erat dengan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China.

        Kementerian tersebut merupakan badan resmi yang mengawasi seluruh kebijakan teknologi, digital, serta rantai pasok industri Beijing.

        BYD, raksasa kendaraan listrik tersebut saat ini memegang kendali yang sangat dominan di pasar mobil listrik global, yang memicu kekhawatiran sejumlah anggota parlemen AS hingga mendesak adanya boikot total terhadap kendaraan listrik asal China.

        Namun di sisi lain, Presiden Donald Trump sempat memberikan sinyal melunak. Trump menyatakan dirinya akan menyambut baik jika produsen otomotif besar seperti BYD bersedia membangun pabrik manufaktur langsung di wilayah Amerika Serikat dan menyerap tenaga kerja lokal.

        Selain ketiga raksasa di atas, Pentagon juga memperluas radar sanksinya ke sektor kecerdasan buatan dengan memasukkan Unitree, perusahaan robotika asal China yang sempat viral berkat inovasi robot menarinya.

        Unitree dituduh secara sadar menerima bantuan strategis dan dana segar dari pemerintah China. Beijing menilai Unitree sebagai salah satu perusahaan inovatif tingkat menengah yang sangat kompetitif di kancah global serta memegang peran krusial bagi ketahanan rantai pasok negara.

        Hingga berita ini diturunkan, baik pihak manajemen BYD maupun Unitree dilaporkan belum memberikan respons resmi atau pernyataan tertulis terkait masuknya nama mereka ke dalam radar hitam Pentagon.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: