Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dunia Usaha Cari Efisiensi, Grab Rambah Layanan ke Grab For Business

        Dunia Usaha Cari Efisiensi, Grab Rambah Layanan ke Grab For Business Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri ride-hailing di Indonesia semakin memperluas perannya di segmen korporasi seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi administrasi di tengah ketidakpastian ekonomi. Digitalisasi pengelolaan perjalanan dinas, konsumsi bisnis, hingga layanan pengiriman kini menjadi salah satu fokus transformasi pengeluaran perusahaan.

        Tren tersebut terlihat dari meningkatnya adopsi layanan mobilitas berbasis aplikasi oleh sektor korporasi. Grab for Business, layanan B2B milik Grab, mengungkapkan telah melayani lebih dari 8.000 klien perusahaan di Indonesia, mencerminkan meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap sistem pengelolaan pengeluaran yang terintegrasi dan berbasis data.

        Director of Grab for Business Roy Nugroho mengatakan perusahaan saat ini semakin menuntut proses administrasi yang lebih sederhana dan terdigitalisasi, terutama untuk kebutuhan transportasi dan konsumsi karyawan.

        "Karena mereka tidak harus lagi kalau dilihat di perusahaan-perusahaan, biasanya nempel bon atau nempel receipt-nya gitu ya. Terus kemudian apakah itu receipt makanan atau kemudian receipt transport. Nah dengan Grab for Business sudah tidak perlu lagi melakukan itu. Karena setiap transaksi itu ter-tagging dengan business kemudian diotomasi di belakang dan kemudian sudah selesai," ujar Roy dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

        Menurut dia, otomatisasi menjadi salah satu kebutuhan utama perusahaan untuk mengurangi proses manual yang selama ini membebani karyawan maupun divisi keuangan. Sistem digital memungkinkan seluruh transaksi bisnis tercatat secara otomatis dan terhubung langsung dengan sistem penagihan perusahaan.

        Roy menjelaskan, karyawan cukup mengubah kategori penggunaan layanan dari "Personal" menjadi "Business" di aplikasi. Selanjutnya biaya akan langsung masuk ke sistem corporate billing tanpa perlu mekanisme penggantian dana (reimbursement) yang umumnya memerlukan proses administrasi tambahan.

        Perkembangan kebutuhan korporasi juga mendorong pelaku industri memperluas layanan di luar transportasi. Salah satu layanan yang mulai diadopsi adalah pengelolaan kebutuhan jamuan bisnis dan kegiatan internal perusahaan melalui platform digital.

        "Sekarang itu kita bawa scale-nya ke perusahaan, karena ternyata perusahaan juga butuh. Karyawan, bapak dan ibu kalau misalnya itu tadi mau menjamu tamu atau klien, itu praktik mereka menggunakan corporate dine out juga sudah bisa," kata Roy.

        Baca Juga: Grab Bantah Rumor Hengkang dari Indonesia

        Baca Juga: Superbank Cetak Laba Rp142 Miliar, Grab Perkuat Cengkeraman di SUPA

        Baca Juga: Grab Pastikan Tarif GrabBike Standard Belum Naik Meski Ada Penyesuaian

        Di sisi lain, pemanfaatan data transaksi dinilai menjadi nilai tambah bagi perusahaan. Melalui sistem pelaporan digital, perusahaan dapat memantau pola pengeluaran secara real time dan melakukan evaluasi efektivitas penggunaan anggaran.

        "Portal visibility-nya juga ada, web visibility-nya juga ada. Nah dengan begitu maka nantinya report-nya itu akan bisa dilihat oleh finance dan kemudian bisa melihat, oh ternyata spending yang ini harusnya bisa ditekan dan bisa ditingkatkan karena meningkatkan revenue. Jadi contoh programnya tentunya adalah mengelola kebutuhan harian dari perusahaan, apakah itu dari mobilitas sampai kepada delivery," ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: