Grab Ungkap Hanya 25 Persen Inisiatif AI yang Berhasil Capai ROI Sesuai Harapan
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Grab Indonesia menilai perusahaan perlu lebih cermat dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) agar investasi teknologi dapat memberikan dampak bisnis yang nyata di tengah meningkatnya kompleksitas ekonomi global.
Dalam Grab Business Forum 2026 bertema "The Next Chapter: Scale Smarter, Execute Faster" di Jakarta, Selasa (9/6), Grab mengungkapkan bahwa meskipun 91 persen organisasi berencana meningkatkan investasi AI, hanya 25 persen yang melaporkan inisiatif AI dan otomatisasi mereka berhasil menghasilkan return on investment (ROI) sesuai harapan.
Data tersebut menunjukkan bahwa banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam menerjemahkan adopsi teknologi menjadi peningkatan produktivitas dan kinerja bisnis yang terukur.
Di sisi lain, perusahaan juga dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi biaya. Sebanyak 47 persen pemimpin bisnis di Asia Tenggara menjadikan inovasi sebagai pendorong utama pertumbuhan, sementara 56 persen kepala keuangan perusahaan (CFO) menempatkan optimalisasi biaya sebagai prioritas utama pada 2026.
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan perusahaan tidak lagi dapat mengandalkan faktor-faktor pertumbuhan tradisional seperti biaya modal yang murah atau ketersediaan tenaga kerja berbiaya rendah.
"Pertumbuhan ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, mengalokasikan sumber daya secara lebih presisi, serta membangun ketahanan yang memungkinkan bisnis tetap adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan momentum pertumbuhan," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan bahwa keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia yang menggunakannya.
Menurut dia, perusahaan perlu menentukan secara tepat persoalan yang memang membutuhkan AI, waktu implementasi yang sesuai, serta menyiapkan talenta yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara kritis dan bertanggung jawab.
"Yang tak kalah penting, setiap adopsi AI perlu tetap menjaga humans in the loop dalam prosesnya, agar teknologi dapat mendukung pengambilan keputusan tanpa menghilangkan peran manusia dalam memahami konteks, menilai hasil, dan memastikan dampaknya tetap relevan bagi kebutuhan bisnis," kata Stella.
Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan ruang bagi perusahaan untuk bertumbuh dengan cara lama semakin terbatas sehingga dibutuhkan strategi yang lebih presisi dalam menentukan prioritas dan mengalokasikan sumber daya.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi dan AI dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, visibilitas operasional, kontrol, serta pengambilan keputusan berbasis data.
"Pertumbuhan ke depan menuntut kemampuan untuk scale smarter melalui penetapan prioritas yang lebih tepat dan alokasi sumber daya yang lebih presisi, sekaligus execute faster dengan memanfaatkan teknologi dan AI untuk meningkatkan produktivitas," ujar Neneng.
Grab menilai kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas menjadi semakin penting seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan kawasan tersebut turun menjadi 4,2 persen pada 2026 dari 5 persen pada tahun sebelumnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: