Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Mereka Merasa Sedang Menang,' Iran Berubah Drastis hingga Bikin Retak Hubungan Amerika dan Israel

        'Mereka Merasa Sedang Menang,' Iran Berubah Drastis hingga Bikin Retak Hubungan Amerika dan Israel Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran tampaknya tidak lagi bermain dengan pola lama dalam menghadapi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Setelah bertahun-tahun mengandalkan perang proksi, operasi rahasia, dan balasan yang terukur, Teheran kini menunjukkan perubahan strategi yang jauh lebih berani dan berisiko.

        Mantan Negosiator Perdamaian Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Aaron David Miller menilai Iran kini berada dalam posisi yang lebih percaya diri.

        Baca Juga: Termasuk Pusat Komando, Iran Hancurkan Hanggar Jet Tempur F-35 Milik Amerika Serikat

        "Iran siap mengambil risiko. Mereka merasa sedang menang. Mereka tidak melihat gencatan senjata melayani kepentingan mereka," katanya, dikutip dari CNN International, Rabu (10/6).

        Perubahan itu terlihat jelas dalam serangan langsung Iran ke Israel pekan ini, yang oleh sejumlah analis dinilai sebagai salah satu langkah paling berani yang pernah dilakukan Republik Islam tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

        Serangan itu menjadi sinyal bahwa garis merah Iran tidak lagi hanya sebatas wilayahnya sendiri. Teheran kini menunjukkan kesediaan untuk merespons langsung setiap serangan terhadap sekutunya di kawasan, termasuk di Lebanon.

        Langkah tersebut muncul setelah Iran berulang kali menuduh Amerika Serikat dan Israel menggerus kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 8 April lalu.

        Menurut Iran, Washington tetap melakukan serangan terhadap target-target Iran meski jalur negosiasi masih berlangsung. Sementara itu, Israel disebut telah melancarkan ribuan serangan ke Lebanon, termasuk ke Beirut, meski terdapat pembatasan dalam kesepakatan gencatan senjata.

        Selama beberapa bulan terakhir, Iran masih memilih pola respons yang relatif terkendali. Teheran melancarkan serangan balasan terbatas terhadap target Amerika dan negara-negara Teluk sembari memperingatkan bahwa perang bisa meluas jika diplomasi gagal. Namun serangan langsung terhadap Israel pekan ini dinilai menandai perubahan yang lebih besar.

        Iran kini ingin menciptakan "persamaan baru" di Timur Tengah, yakni memastikan bahwa serangan terhadap jaringan sekutunya akan memicu respons langsung dari Teheran.

        Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyatakan bahwa negaranya telah membalikkan realitas gencatan senjata yang selama ini hanya berjalan di atas kertas tetapi terus dilanggar di lapangan.

        Pernyataan tersebut memperkuat kesan bahwa kepemimpinan baru Iran mulai meninggalkan pendekatan lama yang mengutamakan kesabaran strategis dan pencegahan konflik. Sebaliknya, generasi pemimpin Iran saat ini dinilai lebih siap mengambil risiko untuk membentuk dinamika kawasan sesuai kepentingan mereka.

        Perubahan sikap ini sangat kontras dibanding respons Iran pada masa lalu. Ketika pemerintahan pertama Donald Trump membunuh Komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani, pada 2020, Iran memilih serangan balasan yang sudah diperhitungkan secara matang agar tidak memicu perang besar dengan Amerika Serikat.

        Bahkan saat Amerika ikut menyerang Iran bersama Israel pada Juni 2025, Teheran masih memilih respons yang proporsional meski retorikanya sangat keras. Kini situasinya berbeda. 

        Senada dengan Miller, Wakil Presiden Quincy Institute, Trita Parsi menilai serangan terbaru Iran menunjukkan perubahan mendasar dalam kalkulasi strategis Teheran.

        Menurutnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terdapat kekuatan regional yang memiliki kemampuan, kapasitas dan kemauan politik untuk menggunakan kekuatan militer secara langsung terhadap manuver militer Israel.

        Iran juga mulai memanfaatkan celah yang muncul dalam hubungan Amerika Serikat dan Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Donald Trump beberapa kali berbeda pandangan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait arah penyelesaian konflik.

        Trump lebih menekankan penyelesaian diplomatik dengan Iran, sementara Israel tetap menginginkan pendekatan yang lebih agresif.

        Setelah Iran menyerang Israel awal pekan ini, Trump bahkan dilaporkan bergerak cepat menghubungi Netanyahu guna mencegah eskalasi lebih lanjut. Situasi tersebut memberi keuntungan strategis bagi Iran.

        Teheran kini berupaya memaksa Washington memilih antara mempertahankan hubungan dekat dengan Israel atau menjaga jalur diplomasi yang masih terbuka dengan Iran.

        Baca Juga: 'Mereka Takut Diganti,' Prabowo Disebut Kunci Terungkapnya Korupsi Dadan Hindayana di MBG

        Dengan kata lain, strategi Iran tidak lagi sekadar bertahan dari tekanan Amerika dan Israel. Teheran kini berusaha mengubah aturan main konflik di Timur Tengah, bahkan jika itu berarti harus mengambil risiko yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: