Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat Energi UGM Ingatkan Kenaikan Pertamax Berpotensi Tambah Beban Subsidi

        Pengamat Energi UGM Ingatkan Kenaikan Pertamax Berpotensi Tambah Beban Subsidi Kredit Foto: Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai berpotensi menambah beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah. Selisih harga yang semakin lebar dengan Pertalite dikhawatirkan mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM bersubsidi.

        Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax setelah menahannya selama tiga bulan menunjukkan upaya untuk mengurangi beban kompensasi energi yang ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

        "Setelah ditahan selama tiga bulan, pemerintah akhirnya menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa pemerintah mulai realistis untuk mengurangi beban pengeluaran APBN untuk bayar kompensasi," ujar Fahmy dalam keterangan resmi ke Warta Ekonomi, Rabu (10/6/2026).

        Namun, menurut dia, kenaikan harga tersebut membuat disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite semakin lebar hingga sekitar Rp3.950 per liter. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pilihan konsumen dalam membeli BBM.

        "Dengan kenaikan tersebut menyebabkan disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite semakin menganga, sekitar Rp3.950 per liter. Perbedaan harga sebesar itu berpotensi memicu konsumen Pertamax berbondong migrasi ke Pertalite," katanya.

        Fahmy menilai perpindahan konsumsi ke Pertalite berpotensi membuat tujuan pemerintah mengurangi beban APBN tidak tercapai. Sebab, meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi dapat memperbesar kebutuhan subsidi energi.

        "Dampaknya, beban APBN untuk subsidi BBM semakin membengkak. Kalau migrasi besar-besaran terjadi, tujuan mengurangi beban APBN tidak tercapai," ujarnya.

        Selain itu, ia mengingatkan potensi peningkatan konsumsi Pertalite juga dapat menimbulkan persoalan pasokan apabila tidak diikuti penyesuaian kuota.

        "Dampak lain migrasi dari Pertamax ke Pertalite akan meningkatkan kuota Pertalite. Kalau tidak ada penambahan kuota Pertalite pasca kenaikan harga Pertamax, kelangkaan Pertalite akan terjadi hingga antrean di SPBU mengular. Kelangkaan itu bisa memicu masalah sosial yang mengganggu stabilitas negara," tegasnya.

        Untuk diketahui, Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026. Dalam kebijakan terbaru tersebut, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

        Selain Pertamax, harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Adapun Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite, dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan harga.

        Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga dilakukan berdasarkan evaluasi berkala dan mengacu pada formula harga yang ditetapkan pemerintah.

        "Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth.

        Baca Juga: Bahlil Tegaskan BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik, Ini Perintah Langsung Presiden Prabowo

        Baca Juga: Kenaikan Harga Pertamax Berpotensi Picu Peralihan Konsumen ke Pertalite

        Ia menambahkan, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan kondisi pasar.

        "Penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat," tambahnya.

        Pertamina memastikan pasokan BBM tetap tersedia di seluruh jaringan SPBU. Sementara itu, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan, yakni Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: