Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pemegang Saham Dorong PT Timah Kembali ke Produksi 80.000 Ton per Tahun

        Pemegang Saham Dorong PT Timah Kembali ke Produksi 80.000 Ton per Tahun Kredit Foto: Facebook/PT Timah Tbk
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Timah Tbk mengungkapkan adanya dorongan dari pemegang saham agar perseroan kembali mencapai level produksi 80.000 ton per tahun, menyamai capaian Indonesia pada masa lalu.

        Namun, target tersebut dinilai masih menantang mengingat sejumlah kendala perizinan dan keterbatasan akses penambangan yang masih dihadapi perusahaan.

        Wakil Direktur Utama PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, mengatakan saat ini perseroan memiliki Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 30.000 ton. Meski demikian, pemegang saham berharap PT Timah dapat kembali meningkatkan produksi hingga mendekati rekor yang pernah dicapai Indonesia.

        "Ke depannya proyeksi kita diminta sampai dengan 80.000 ton per tahun. Kita diharapkan, tergantung sumber daya dan cadangan kita. Tapi pemegang saham melihat bahwa Indonesia ini pernah memproduksi 80.000 ton. Nah, itu kita diminta kembali ke sana. Tahun lalu itu sekitar 50.000-an. Memang agak menantang untuk mencapainya. Kita diminta kembali ke rekor kita di 80.000 ton," kata Budi dalam media gathering bersama awak media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

        Menurut Budi, upaya mencapai level produksi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan yang berada di luar kendali perusahaan. Salah satunya berkaitan dengan pemanfaatan wilayah tambang yang masih beririsan dengan kawasan lain sehingga belum dapat dioptimalkan sepenuhnya.

        "Jumlah bijih ini memang terkendala tadi. Ketika akan menambang, ada faktor uncontrollable dari PT Timah yang membuat kita belum bisa menambang 100% dari wilayah IUP kita. Karena ada yang beririsan dengan wilayah hutan, wilayah perikanan. Itu yang sedang kita usahakan. Nanti kalau semua sudah terpenuhi dan izin tambangnya ada, kita akan bisa penuhi," ujarnya.

        Untuk menjaga keberlanjutan produksi, PT Timah terus melakukan eksplorasi guna menambah cadangan dan sumber daya mineral. Perseroan juga tengah mengevaluasi pengembangan tambang laut yang lebih dalam serta penambangan primer yang membutuhkan teknologi pengolahan yang berbeda dibandingkan metode yang digunakan saat ini.

        "Nah, sekarang tugasnya nih kalau lihat dari prospek timah sendiri di PT Timah adalah bagaimana kita menjaga kontinuitas untuk supply bijih kita. Nah, itu yang kita lakukan untuk menjaga kontinuitas tambang kita dengan terus melakukan eksplorasi, menambah cadangan dan sumber daya kita. Kita ke depannya akan menambang di laut dengan nanti mungkin lebih dalam," jelasnya.

        Baca Juga: PT Timah Ungkap 6 Smelter Sitaan Negara Belum Bisa Dioperasikan

        Baca Juga: Bos PT Timah Ungkap Umur Tambang Tinggal 15 Tahun Lagi

        Di tengah tantangan pasokan, Budi menilai prospek industri timah masih menjanjikan. Permintaan global diperkirakan tetap kuat, didorong oleh kebutuhan sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), panel surya, hingga pusat data (data center). Sementara dari sisi pasokan, sejumlah kebijakan di negara produsen turut memengaruhi keseimbangan pasar.

        "Kalau kita lihat nih memang dari sisi timah ini ke depannya masih akan tetap dibutuhkan dan dari faktor supply and demand yang ada, mungkin harganya sekarang kita menikmati harga yang tinggi. Nah, kemungkinan akan relatif lebih tinggi ya, relatif tinggi di atas atau sedikit di bawah dari 50.000 dolar per ton seperti itu," tutup Budi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: