Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        TINS Lirik Bisnis Daur Ulang Timah, Margin Disebut Bisa Capai 30%

        TINS Lirik Bisnis Daur Ulang Timah, Margin Disebut Bisa Capai 30% Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Timah Tbk (TINS) mulai menjajaki peluang pengembangan bisnis daur ulang atau recycle timah sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha sekaligus menjawab tren keberlanjutan yang semakin kuat di pasar global.

        Wakil Direktur Utama PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, mengatakan potensi bisnis timah daur ulang mulai menjadi perhatian perusahaan setelah adanya permintaan dan pertanyaan dari sejumlah konsumen di negara maju terkait ketersediaan produk timah hasil daur ulang.

        "Dan yang berikutnya lagi adalah recycle timah. Nah, itu menarik juga. Negara-negara maju di Eropa, Jepang, selalu menanyakan itu. Mereka bilang, 'Timah recycle punya nggak, Pak?' Mereka tanya ke kita. Indonesia ini kan konsumen elektronik besar, kenapa belum punya industri timah recycle? Jadi itu menarik. Kemarin kita sudah diskusi dengan BOD, kayaknya menarik nih," ujar Budi dalam agenda media gathering di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

        Menurut dia, bisnis timah daur ulang tidak hanya menawarkan peluang pasar baru, tetapi juga memberikan nilai tambah dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan. Bahkan, produk hasil daur ulang berpotensi memperoleh harga premium di pasar tertentu karena mendukung aspek lingkungan dan target ESG.

        "Jadi memang margin-nya ada. Mungkin sekitar 20% sampai 30%. Untuk orang Jepang, recycle itu bisa dihargai lebih mahal karena dia dapat poin ESG, dapat poin ramah lingkungan. Mungkin dari sana. Tapi kita memang belum menyediakan. Kemarin sudah diskusi dengan BOD dan ini menarik," katanya.

        Budi menjelaskan, pengembangan industri timah daur ulang membutuhkan fasilitas pengolahan khusus untuk memisahkan logam timah dari limbah elektronik yang telah habis masa pakainya.

        "Jadi barang elektronik bekas itu dihaluskan dulu, kemudian dipisah-pisahkan materialnya. Digerus dulu, dibakar, dipisahkan. Nanti ada proses produksinya," jelasnya.

        Ia menambahkan, praktik daur ulang timah sebenarnya telah berkembang pesat di sejumlah negara maju. Bahkan, sebagian besar produksi timah di Eropa saat ini berasal dari material hasil daur ulang.

        "Di Eropa hampir 60% produksi timah berasal dari recycle. Kita berpikir, kalau used cooking oil (UCO) saja bisa dikumpulkan dan diolah, kenapa timah recycle tidak bisa? Jadi ada inspirasi ke sana," ungkap Harry.

        Baca Juga: Pemegang Saham Dorong PT Timah Kembali ke Produksi 80.000 Ton per Tahun

        Baca Juga: PT Timah Jajaki Pasokan Bijih dari Myanmar dan Amerika Latin

        Sejalan dengan rencana tersebut, Direktur SDM PT Timah Ratih Mayasari mengatakan perusahaan juga mulai menyiapkan kompetensi sumber daya manusia untuk mendukung kemungkinan pengembangan bisnis timah daur ulang di masa depan.

        Menurut Ratih, tren global menunjukkan bahwa industri timah tidak lagi hanya bergantung pada aktivitas penambangan, tetapi juga mulai bergerak ke arah ekonomi sirkular yang memanfaatkan kembali logam yang telah digunakan.

        "Kalau melihat tren global, isu keberlanjutan, ESG, dan circular economy semakin kuat. Jadi tidak hanya bicara bagaimana menambang timah baru, tetapi juga bagaimana memanfaatkan kembali timah yang sudah pernah digunakan. Itu yang saat ini mulai kami pelajari dan siapkan kompetensinya dari sisi SDM," kata Ratih.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: