'Hampir Tak Mungkin,' Upaya Donald Trump Akhiri Perang Iran-Amerika Bisa Digagalkan Manuver Israel
Kredit Foto: Istimewa
Harapan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di depan mata. Namun di tengah optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim kesepakatan damai hampir selesai, muncul satu faktor yang dinilai dapat menggagalkan seluruh proses tersebut: Israel.
Pengamat Hubungan Internasional dari University of South Florida, Arman Mahmoudian menilai persoalan terbesar dalam negosiasi saat ini bukan lagi soal nuklir atau dokumen perjanjian, melainkan kemampuan Washington memberikan jaminan keamanan yang benar-benar dapat dipercaya oleh Teheran.
Baca Juga: 'Kami Bukan Raja Dunia,' FIFA Angkat Tangan Soal Kelakuan Amerika ke Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Menurut Mahmoudian, Iran memiliki dua tuntutan utama dalam pembicaraan damai yang sedang berlangsung. Pertama adalah jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap wilayah Iran setelah kesepakatan ditandatangani.
Masalahnya, kata dia, Presiden Donald Trump mungkin dapat menjamin bahwa Amerika Serikat tidak akan kembali menyerang Iran, tetapi situasi menjadi jauh lebih rumit ketika menyangkut Israel.
"Trump mungkin bisa memberikan jaminan keamanan atas nama Amerika Serikat, tetapi hampir tidak mungkin ia melakukan hal yang sama atas nama Israel," ujar Mahmoudian, dikutip dariĀ Al Jazeera, Jumat (12/6).
Kondisi tersebut membuat posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi sorotan dalam proses negosiasi yang disebut-sebut telah memasuki tahap akhir. Mahmoudian menilai masih terdapat tanda tanya besar mengenai apakah Netanyahu akan mendukung penuh kesepakatan yang dicapai antara Washington dan Teheran.
Keraguan tersebut muncul karena Israel selama ini menjadi salah satu pihak yang paling keras menekan Iran, terutama terkait program nuklir dan aktivitas regional Teheran. Jika Israel mengambil langkah militer sepihak setelah kesepakatan diteken, maka jaminan keamanan yang diharapkan Iran bisa kehilangan makna.
Selain isu keamanan, Mahmoudian menyebut pencabutan sanksi ekonomi dan bantuan pemulihan ekonomi juga menjadi tuntutan utama Iran. Ekonomi Iran disebut mengalami tekanan berat akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel serta berbagai sanksi yang membatasi aktivitas perdagangan dan akses keuangan negara tersebut.
"Iran membutuhkan pencabutan sanksi dan bantuan ekonomi secara cepat karena kondisi ekonominya telah mengalami kerusakan serius," katanya.
Pernyataan Mahmoudian muncul setelah Trump mengumumkan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran hampir selesai dan dokumen final tengah dirampungkan.
Trump bahkan menyebut para negosiator telah mencapai terobosan besar dan proses penandatanganan dapat berlangsung dalam hitungan hari.
"Kami baru saja mencapai penyelesaian besar atas perang dengan Iran. Dokumen-dokumennya sudah berada dalam tahap yang sangat final," kata Trump.
Menurut Trump, inti kesepakatan tersebut adalah memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun di masa depan. Ia juga mengklaim penandatanganan perjanjian akan membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sehingga membantu menstabilkan pasar energi global yang sempat terguncang akibat konflik.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance disebut akan menghadiri proses penandatanganan yang direncanakan berlangsung di Eropa dalam waktu dekat.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai jalan menuju perdamaian masih belum sepenuhnya aman. Selama faktor Israel belum mendapatkan kepastian dalam kesepakatan, potensi gangguan terhadap proses normalisasi hubungan Amerika Serikat dan Iran masih tetap terbuka.
Baca Juga: 'Ini Akan Benar-benar Terlaksana,' Trump Bongkar Detail Isi Kesepakatan Damai Iran dan Amerika
Dengan kata lain, ketika Washington dan Teheran semakin dekat menuju titik damai, perhatian dunia kini justru tertuju pada Tel Aviv yang berpotensi menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan kesepakatan tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: