- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Kenalan dengan Ham Pak Japyusuf Hamdani, Pemilik Inaco yang Bawa JELI IPO
Kredit Foto: Ist
Setelah pasar modal Indonesia relatif sepi penawaran umum perdana saham (IPO), PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham JELI. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan kisaran harga Rp900-Rp1.120 per saham.
Melalui aksi korporasi tersebut, Perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar. Masa penawaran awal berlangsung pada 15-22 Juni 2026, sementara pencatatan saham di BEI dijadwalkan pada 7 Juli 2026.
Di balik IPO tersebut, nama Japyusuf Hamdani menjadi sosok sentral sebagai pengendali Perseroan. Berdasarkan prospektus, sebelum IPO saham PT Niramas Utama dimiliki PT Niramas Utama International sebesar 99,8% dan Sadikun Wiratno sebesar 0,2%.
Setelah IPO, kepemilikan PT Niramas Utama International akan terdilusi menjadi 73,92%, sementara publik akan menguasai 25,93% saham Perseroan. Dengan struktur tersebut, kendali perusahaan tetap berada di tangan kelompok pengendali.
Profil Ham Pak Japyusuf Hamdani
Prospektus mengungkapkan Japyusuf Hamdani merupakan Direktur Utama PT Niramas Utama Tbk sejak 2013. Pria berusia 85 tahun tersebut merupakan warga negara Indonesia yang menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Umum di Chinese High School Jakarta pada 1961.
Selain memimpin PT Niramas Utama, Japyusuf juga menjabat Direktur Utama PT Niramas Utama International sejak 2002. Perusahaan tersebut merupakan pemegang saham pengendali PT Niramas Utama dan akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas setelah IPO.
Dalam perjalanan kariernya, Japyusuf menempati berbagai posisi strategis di sejumlah perusahaan. Ia tercatat sebagai Komisaris PT Emas Jaya Perdana sejak 2023, Komisaris Utama PT Aneka Wahana Nusantara sejak 2019, Komisaris Utama PT Jaya Mulia Permata sejak 2015, Komisaris PT Supra Masindo Utama sejak 2015, Komisaris Utama PT Supra Megah Utama sejak 2008, Komisaris Utama PT Gaharu Sejahtera sejak 2001, dan Komisaris Utama PT BPR Supra Artapersada sejak 1993.
Di sektor pasar modal, Japyusuf juga pernah menjabat Komisaris Utama PT Supra Sekuritas Indonesia pada periode 1990 hingga 2019.
Prospektus juga mengungkap komitmen Japyusuf Hamdani untuk tetap mempertahankan pengendalian perusahaan setelah IPO.
“Japyusuf Hamdani selaku pengendali Perseroan menyatakan tidak akan melepas kepengendalian atas Perseroan sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Pernyataan Pendaftaran menjadi efektif.”
Komitmen tersebut disampaikan melalui surat pernyataan tertanggal 31 Maret 2026.
Baca Juga: Produsen Inaco (JELI) Banderol Harga IPO Rp900-Rp1.120 per Saham, Incar Dana Segar Rp392 Miliar
Baca Juga: Tiga Perusahaan Mundur IPO Saat Pasar Bergejolak, Ini Penjelasan BEI
Selain itu, Perseroan menyatakan tidak terdapat pemegang saham yang memperoleh saham dengan harga di bawah harga IPO dalam enam bulan sebelum penyampaian pernyataan pendaftaran ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan kondisi tersebut, tidak terdapat saham yang terkena ketentuan pembatasan pengalihan saham (lock-up period) sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 25 Tahun 2017.
Profil Bisnis dan Kinerja Keuangan JELI Jelang IPO
PT Niramas Utama merupakan perusahaan yang dikenal melalui merek INACO atau Indonesia Nata de Coco.
Perseroan berdiri pada 1990 dengan nama PT Nata Sari Raya sebelum berubah menjadi PT Niramas Utama. Saat ini perusahaan berkantor pusat di Bekasi dan mengoperasikan empat fasilitas produksi yang berlokasi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi.
Kegiatan usaha yang dijalankan saat ini berfokus pada industri makanan dan minuman penutup (dessert), termasuk produk nata de coco, jelly, dan berbagai produk makanan penutup lainnya.
Dari sisi fundamental, kinerja keuangan Perseroan menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang 2025.
Penjualan tercatat sebesar Rp753,05 miliar pada 2025, turun dibandingkan Rp788,43 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, Perseroan berhasil meningkatkan profitabilitas secara signifikan.
Laba bersih melonjak menjadi Rp39,03 miliar pada 2025 dari Rp11,63 miliar pada 2024 atau tumbuh sekitar 235,5% secara tahunan.
Sementara itu, laba sebelum pajak meningkat menjadi Rp51,69 miliar dari Rp20,24 miliar pada tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut turut memperbaiki sejumlah indikator keuangan. Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 26,82% dari 9,81%, sedangkan Return on Assets (ROA) naik menjadi 7,07% dari 2,23%.
Per akhir 2025, total aset Perseroan mencapai Rp552,11 miliar, meningkat dari Rp522,59 miliar pada tahun sebelumnya.
Total ekuitas naik menjadi Rp145,52 miliar dari Rp118,52 miliar, sementara rasio liabilitas terhadap ekuitas membaik menjadi 2,79 kali dari 3,41 kali pada 2024.
Dari sisi likuiditas, current ratio meningkat menjadi 1,14 kali dibandingkan 0,98 kali pada tahun sebelumnya, menunjukkan kemampuan perusahaan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
Dana IPO untuk Ekspansi Produksi
Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat kapasitas produksi dan struktur keuangan Perseroan.
Sekitar 51,04% dana akan disalurkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan jelly.
Sebanyak 18,36% digunakan untuk pembelian mesin dan fasilitas produksi, 10,63% untuk pembayaran sebagian pinjaman bank, sementara sisanya digunakan sebagai modal kerja guna mendukung pertumbuhan usaha.
Dengan harga penawaran Rp900-Rp1.120 per saham, Perseroan berpotensi menghimpun dana maksimal Rp392 miliar dari pasar modal.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: