Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Klaim Jadi Presiden Amerika Pertama yang Berdamai dengan Iran: Pemimpin Sebelumnya Selalu Gagal

        Trump Klaim Jadi Presiden Amerika Pertama yang Berdamai dengan Iran: Pemimpin Sebelumnya Selalu Gagal Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim dirinya menjadi pemimpin pertama di Gedung Putih yang berhasil mewujudkan perdamaian dengan Iran setelah puluhan tahun hubungan kedua negara diwarnai ketegangan, sanksi, dan ancaman perang.

        Trump menyampaikan klaim tersebut setelah tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran yang sebelumnya diumumkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Menurut Trump, perjanjian tersebut akan menjadi titik balik bagi keamanan Timur Tengah dan perdagangan energi global.

        Baca Juga: Iran Beri Sinyal Mengejutkan, Sebut Amerika Bisa Jadi Negara Sahabat

        "Kesepakatan besar ini akan membawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan," kata Trump, dikutip Senin (15/6).

        Ia bahkan menyebut para presiden AS sebelumnya berulang kali mencoba menjalin perdamaian dengan Iran, namun semuanya gagal.

        "Banyak presiden telah mencoba berdamai dengan Iran, dan semuanya gagal sebelum saya," ujar Trump.

        Trump juga menilai para pemimpin di Timur Tengah kini untuk pertama kalinya menemukan seorang presiden AS yang mampu membantu mereka mewujudkan perdamaian yang sesungguhnya.

        "Para pemimpin di kawasan itu, untuk pertama kalinya, menemukan seorang presiden yang dapat membantu mereka mencapai perdamaian yang nyata," katanya.

        Salah satu dampak langsung dari kesepakatan tersebut, menurut Trump, adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi titik panas geopolitik dunia.

        Ia mengatakan, setelah perjanjian resmi ditandatangani pada Jumat mendatang, Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk proses pembersihan ranjau dan aktivitas pelayaran energi.

        "Dengan dibukanya selat setelah penandatanganan perjanjian pada Jumat, minyak akan kembali mengalir dari kedua sisi kawasan dan untuk seluruh dunia," ujar Trump.

        Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui negosiasi intensif. Kedua negara disebut sepakat mengakhiri operasi militer secara permanen di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.

        Namun, klaim Trump sebagai presiden AS pertama yang berhasil berdamai dengan Iran berpotensi memicu perdebatan. Pasalnya, pada 2015, pemerintahan Presiden Barack Obama juga berhasil mencapai kesepakatan bersejarah dengan Teheran melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

        Perjanjian JCPOA yang didukung komunitas internasional itu mengatur pembatasan program nuklir Iran, pembatasan pengayaan uranium, serta pemberian akses kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran. Sebagai imbalannya, sejumlah sanksi terhadap sektor minyak Iran dicabut dan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan kembali dibuka.

        Meski demikian, Trump tampaknya ingin menegaskan bahwa kesepakatan yang kini dicapai memiliki cakupan lebih luas karena tidak hanya menyentuh isu nuklir, tetapi juga mencakup penghentian konflik militer dan pembukaan kembali jalur energi paling vital di dunia.

        Baca Juga: Dijadikan 'Orang Pinggiran,' Nanik S Deyang Klaim Dadan Hindayana Tak Suka Dirinya Awasi Program MBG

        Apabila implementasi perjanjian berjalan sesuai rencana, kesepakatan tersebut berpotensi menjadi salah satu momen geopolitik paling penting dalam beberapa dekade terakhir dan dapat mengubah lanskap hubungan antara Amerika Serikat, Iran, serta kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: