Rasisme hingga Bentrokan Supporter Iran, Kontroversi Baru Guncang Ajang Piala Dunia 2026 di Amerika
Kredit Foto: Istimewa
Piala Dunia 2026 yang baru memasuki pekan pertama penyelenggaraan justru sudah dipenuhi berbagai kontroversi di luar lapangan. Mulai dari polemik visa dan keamanan di Amerika Serikat (AS) perlakuan terhadap Timnas Iran, dugaan simbol neo-Nazi yang melibatkan wasit, hingga harga tiket yang melambung hingga ratusan juta rupiah.
Rangkaian kontroversi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan tuan rumah dalam mengelola turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Baca Juga: 'Kami Tak Ingin Mengambilnya,' Ini Rencana Amerika Terhadap Bahan Nuklir Iran Usai Damai
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian terjadi pada Tim Nasional Iran. Pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai "tim paling tertindas di Piala Dunia" setelah para pemain diperintahkan meninggalkan Amerika Serikat hanya beberapa jam usai bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru di Los Angeles.
Skuad Iran dipaksa kembali ke kamp latihan mereka di Tijuana, Meksiko tanpa diberi waktu pemulihan di hotel seperti tim peserta lainnya.
Sebelumnya, Iran juga menghadapi ketidakpastian visa akibat konflik antara AS dan Iran yang berlangsung selama beberapa bulan. Bahkan, beberapa staf pendukung tim tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Polemik Iran tak berhenti di sana. Pertandingan melawan Selandia Baru juga diwarnai atmosfer politik yang panas.
Sejumlah pendukung Iran di tribun mengibarkan bendera era pra-Revolusi 1979 bergambar singa dan matahari sebagai simbol penolakan terhadap pemerintahan saat ini di Teheran. Sebagian penonton bahkan memilih mendukung Selandia Baru dan mencemooh tim negaranya sendiri.
Di luar stadion, ratusan orang menggelar aksi protes dan merusak bendera resmi Iran.
Kontroversi lain muncul dari dunia perwasitan. Wasit asal Australia, Shaun Evans dituduh memperagakan simbol yang identik dengan kelompok supremasi kulit putih saat bertugas dalam pertandingan Jerman melawan Curacao.
Dalam tayangan televisi, Evans terlihat membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan telunjuknya, gestur yang oleh sejumlah kelompok pemantau diskriminasi dianggap sebagai simbol ekstrem kanan.
Kelompok Pemantau Rasisme, Fare bahkan meminta FIFA mencopot Evans dari turnamen. Namun, setelah melakukan penyelidikan, FIFA menyatakan tidak menemukan pelanggaran disiplin apa pun. Evans sendiri menjelaskan gerakan tersebut hanyalah refleks atau kedutan tanpa unsur kesengajaan.
Masalah visa juga menimpa perangkat pertandingan. Wasit asal Somalia, Omar Artan ditolak masuk ke Amerika Serikat setelah petugas imigrasi di Bandara Miami menilai dirinya tidak memenuhi persyaratan keamanan.
Pejabat AS menyebut keputusan itu berkaitan dengan dugaan hubungan dengan individu yang dicurigai terkait organisasi teroris.
Artan mengaku sangat kecewa karena telah mengantongi visa resmi untuk bertugas di Piala Dunia.
"Saya hanya seorang wasit yang ingin mewujudkan mimpi terbesar dalam hidup saya, yakni tampil di Piala Dunia," ujarnya.
Setelah kembali ke Mogadishu, Artan justru disambut ribuan pendukung di stadion setempat.
Kontroversi juga menyelimuti harga tiket pertandingan. Meski FIFA mengklaim telah menjual lebih dari enam juta tiket, sejumlah pertandingan justru memperlihatkan banyak kursi kosong di tribun. Foto-foto kursi kosong pada laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara, Meksiko, viral di media sosial.
FIFA membantah stadion tidak penuh dan menyebut sebagian suporter memilih berdiri di area koridor daripada duduk di kursi masing-masing.
Fenomena serupa juga terlihat pada laga Swiss versus Qatar serta Jepang melawan Belanda. Bahkan, sejumlah relawan dilaporkan diminta mengisi kursi-kursi kosong.
Di sisi lain, harga tiket Piala Dunia 2026 terus memecahkan rekor. Harga tiket termurah fase grup mencapai 140 dollar AS atau sekitar Rp2,3 juta, melonjak dua kali lipat dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sementara itu, tiket final yang digelar di New Jersey pada 19 Juli 2026 mengalami lonjakan ekstrem. Harga awal yang dipatok sebesar 8.680 dollar AS atau sekitar Rp141 juta naik menjadi 10.990 dollar AS, dan kemudian melonjak hingga 32.970 dollar AS atau sekitar Rp537 juta per lembar.
Sebagai perbandingan, tiket final Piala Dunia 2022 di Qatar hanya dibanderol sekitar 1.600 dollar AS atau sekitar Rp26 juta.
Kontroversi di lapangan juga tidak kalah mencolok. Laga pembuka antara Afrika Selatan melawan Meksiko menghasilkan tiga kartu merah sekaligus, masing-masing dua untuk Afrika Selatan dan satu untuk Meksiko.
Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak "Battle of Nuremberg" pada 2006 yang menghasilkan empat kartu merah.
Padahal, sepanjang Piala Dunia Qatar 2022, total kartu merah yang keluar hanya empat buah selama keseluruhan turnamen.
Baca Juga: 'FIFA Tak Bisa Apa-apa,' Iran Dibiarkan Sendiri Hadapi Kebijakan Amerika di Piala Dunia 2026
Berbagai polemik tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menyuguhkan drama di atas rumput hijau, tetapi juga dipenuhi persoalan politik, keamanan, imigrasi, hingga komersialisasi yang terus menjadi sorotan dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: