Dibocorkan Media Israel, Amerika Izinkan Bahan Nuklir Iran Tetap Berada di Teheran
Kredit Foto: Istimewa
Isi memorandum of understanding (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu kontroversi setelah media Israel membocorkan salah satu poin paling sensitif dalam kesepakatan tersebut. Washington disebut mengizinkan persediaan bahan nuklir Iran tetap berada di wilayah Teheran dan tidak dipindahkan ke luar negeri.
Dikutip dari Jerussalem Post, Kamis (18/6), Menurut bocoran teks perjanjian, uranium yang telah diperkaya milik Iran hanya akan diencerkan di dalam negeri di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dengan demikian, tidak ada kewajiban bagi Iran untuk menyerahkan atau mengeluarkan material nuklirnya dari negara tersebut.
Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel
Ketentuan ini menjadi salah satu poin yang paling menyita perhatian karena menyangkut inti sengketa antara Washington dan Teheran selama bertahun-tahun.
Bocoran memorandum juga menunjukkan bahwa langkah-langkah besar terkait program nuklir Iran justru belum diwajibkan sebelum AS mulai memberikan konsesi ekonomi kepada Teheran.
Dalam dokumen yang mencakup Pasal 8 hingga Pasal 14 tersebut, disebutkan bahwa setelah memorandum ditandatangani, kedua negara akan menyepakati mekanisme yang memungkinkan AS mencairkan dana dan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Kesepakatan tersebut bahkan tidak mensyaratkan tindakan signifikan dari Iran sebelum dana dan aset tersebut dibuka kembali.
Selain itu, Kementerian Keuangan AS akan mengeluarkan pengecualian sanksi (waiver) bagi ekspor minyak mentah, produk minyak bumi, dan turunannya dari Iran. Washington juga disebut akan membebaskan dana-dana Iran yang selama ini dibatasi atau dibekukan.
Dokumen yang bocor itu juga mengatur sejumlah poin strategis lainnya. Pasal pertama memorandum menyebutkan bahwa penandatanganan perjanjian akan menghentikan operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.
Pasal kedua dan ketiga menegaskan pengakuan AS dan Iran terhadap kedaulatan serta integritas teritorial masing-masing. Kedua pihak juga diberikan tenggat waktu 60 hari, yang dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama, untuk mencapai perjanjian final yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Pasal keempat dan kelima mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz. AS disebut akan segera mencabut blokade, sedangkan Iran berkomitmen mengupayakan jalur aman bagi kapal-kapal komersial tanpa mengenakan biaya transit.
Di sektor ekonomi, memorandum juga memuat rencana ambisius berupa paket dukungan rekonstruksi dan pengembangan ekonomi Iran senilai 300 miliar dolar AS.
Tak hanya itu, penyelesaian akhir dari kesepakatan AS-Iran nantinya direncanakan akan diperkuat melalui resolusi mengikat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bocoran mengenai diizinkannya bahan nuklir Iran tetap berada di dalam negeri diperkirakan akan memicu perdebatan baru, terutama di kalangan sekutu AS di Timur Tengah dan para pengkritik perjanjian di Washington.
Pasalnya, selama ini isu utama yang menjadi pemicu konflik antara AS dan Iran adalah kekhawatiran terhadap kemampuan Teheran mengembangkan program nuklirnya. Namun, isi memorandum yang bocor justru menunjukkan bahwa material nuklir Iran tidak diwajibkan keluar dari negara tersebut, melainkan hanya akan dikelola dan diawasi melalui mekanisme internasional.
Baca Juga: 'Kami Tak Butuh Mereka,' Amerika Klaim Mampu Bersihkan Ranjau Iran Sendirian Tanpa Bantuan Dunia
Hingga kini, pemerintah AS maupun Iran belum merilis secara resmi teks lengkap memorandum tersebut kepada publik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: