Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jelang RDG Rupiah Dibuka Melemah, BI Rate Diproyeksi Naik 25 Bps

        Jelang RDG Rupiah Dibuka Melemah, BI Rate Diproyeksi Naik 25 Bps Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode Juni 2026. 

        Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Posisi tersebut melemah 98 poin atau sekitar 0,55 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

        Pelaku pasar saat ini mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik aliran modal asing ke dalam negeri.

        Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan Bank Indonesia akan kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) dalam RDG yang berlangsung hari ini.

        "BI rate kemungkinan akan naik," ujarnya kepada Warta Ekonomi, Kamis (18/6/2026).

        Menurut pria yang akrab disapa Asmo tersebut, meskipun rupiah masih bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS, kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menarik arus modal masuk yang lebih besar guna meredam tekanan terhadap nilai tukar.

        "Untuk tetap memberikan sweetener masuknya capital inflows agar IDR tetap stabil," ujarnya.

        Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan 25 bps menjadi 4,50 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.

        Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga tersebut mulai menunjukkan hasil positif, terutama dalam menarik aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik.

        Ia mengungkapkan minat investor global tercermin dari meningkatnya aliran dana masuk pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Pada 10 dan 11 Juni 2026, inflow nonresiden ke SRBI dan SBN masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.

        Selain itu, aliran modal asing juga tercermin dari keberhasilan penjualan perdana obligasi internasional Danantara yang membukukan dana masuk sebesar Rp26,9 triliun.

        "Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," kata Destry dalam keterangan resmi yang disampaikan pada 12 Juni 2026.

        Meski demikian, tekanan eksternal yang masih tinggi membuat pergerakan rupiah tetap rentan. Pasar kini menanti keputusan Bank Indonesia terkait arah suku bunga yang dinilai akan menjadi salah satu faktor utama penentu stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: