- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Satu Lagi Calon Emiten Meluncur, Anak Usaha Prodia Bidik Dana Rp62 Miliar dari IPO
Kredit Foto: Uswah Hasanah
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (Proline) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO) dengan melepas sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan membidik dana segar hingga Rp62,75 miliar dari aksi korporasi tersebut.
Berdasarkan prospektus awal yang diterbitkan pada 18 Juni 2026, saham Proline ditawarkan pada kisaran harga Rp100-Rp120 per saham. Dengan harga tersebut, nilai emisi IPO mencapai maksimal Rp62,748 miliar. Perseroan menjadwalkan pencatatan saham di BEI pada 9 Juli 2026.
Proline merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan terkait diagnosis medis. Perusahaan berbasis di Kawasan Industri Jababeka III, Jawa Barat, ini fokus memproduksi berbagai produk diagnostik laboratorium atau in vitro diagnostics (IVD) yang digunakan untuk pemeriksaan kesehatan.
Dari dana yang dihimpun melalui IPO, perseroan akan mengalokasikan sekitar Rp35,67 miliar untuk melunasi pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin Bank).
Sementara sekitar 28,92% dana akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure), termasuk pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, penataan ulang area produksi, serta penambahan air handling unit (AHU) Laboratorium Biomolekuler. Sisanya sekitar 8,51% akan digunakan sebagai modal kerja untuk pembelian bahan baku, pengembangan produk, serta aktivitas pemasaran.
Saat ini struktur pemegang saham Proline terdiri atas PT Prodia Utama dengan kepemilikan 51%, PT Prodia Widyahusada Tbk sebesar 39%, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH sebesar 10%. Setelah IPO, porsi kepemilikan publik akan mencapai 30%.
Dari sisi bisnis, Proline membidik pertumbuhan pasar alat diagnostik kesehatan yang didorong peningkatan belanja kesehatan pemerintah. Dalam prospektus disebutkan anggaran kesehatan 2026 mencapai Rp244 triliun, naik dari Rp218,5 triliun pada 2025. Dana tersebut antara lain digunakan untuk penguatan Jaminan Kesehatan Nasional, pengendalian penyakit, serta peningkatan layanan kesehatan.
Perseroan juga mengincar peluang dari Program Cek Kesehatan Gratis yang dijalankan pemerintah. Program tersebut memiliki alokasi anggaran sekitar Rp2,6 triliun pada 2026. Dari nilai tersebut, Proline memperkirakan terdapat potensi pasar sekitar Rp2,2 triliun yang dapat menggunakan produk diagnostik yang diproduksi perseroan.
Menurut prospektus, Proline berencana berpartisipasi dalam pengadaan untuk sembilan jenis pemeriksaan kesehatan yang sesuai dengan portofolio produk yang telah diproduksi secara rutin. Perseroan juga menyebut telah memiliki pengalaman dalam pengadaan pemerintah, termasuk tender pengadaan reagen profil lipid senilai sekitar Rp90 miliar pada 2023 serta pengadaan terkait skrining penyakit kardiovaskular dan kanker hati pada 2025.
Selain pasar pemerintah, Proline melihat peluang pertumbuhan dari perluasan fasilitas layanan kesehatan nasional. Hingga akhir 2025 terdapat lebih dari 3.000 rumah sakit dan lebih dari 10.000 puskesmas di Indonesia. Saat ini perseroan telah melayani lebih dari 7.600 pengguna akhir yang terdiri dari rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium klinik.
Baca Juga: Produsen Inaco (JELI) Banderol Harga IPO Rp900-Rp1.120 per Saham, Incar Dana Segar Rp392 Miliar
Baca Juga: Tiga Perusahaan Mundur IPO Saat Pasar Bergejolak, Ini Penjelasan BEI
Perseroan menyebut masih terdapat ruang ekspansi yang besar karena lebih dari 47% fasilitas pelayanan kesehatan dan sekitar 38% dinas kesehatan kabupaten/kota di Indonesia belum menjadi pelanggan perusahaan.
Dalam prospektus, risiko utama yang dihadapi perseroan adalah ketergantungan terhadap belanja pemerintah di sektor kesehatan. Risiko tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor sebelum berpartisipasi dalam IPO.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri