Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        DBS Treasures Melejit 289%, Investor Tajir Borong Emas Saat IHSG Terpuruk

        DBS Treasures Melejit 289%, Investor Tajir Borong Emas Saat IHSG Terpuruk Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank DBS Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada bisnis pengelolaan kekayaan melalui layanan DBS Treasures di tengah volatilitas pasar global dan domestik. Hingga Mei 2026, DBS Treasures membukukan pertumbuhan Net Profit After Tax (NPAT) sebesar 289% secara tahunan (year-on-year/yoy), didukung oleh kenaikan jumlah nasabah baru sebesar 73% serta strategi investasi yang menempatkan emas sebagai instrumen unggulan di tengah ketidakpastian global.

        Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah tekanan pada pasar keuangan. Berdasarkan data per Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hampir 30%, sementara arus keluar modal asing mencapai sekitar Rp41,16 triliun.

        Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan perubahan perilaku investor kelas atas menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan perseroan.

        “Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat perubahan perilaku nasabah affluent yang semakin signifikan terutama pada kondisi pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global. Situasi ini menjadi perhatian utama kami, dan secara konsisten kami mengedepankan strategi wealth management yang berbasis insight yang objektif, komprehensif, berorientasi pada peluang, dapat ditindaklanjuti, serta relevan dengan pendekatan personal yang berpusat pada nasabah,” ujar Melfrida dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).

        Untuk menghadapi kondisi tersebut, DBS mengandalkan rekomendasi investasi yang lebih personal melalui integrasi wawasan investasi regional dari Chief Investment Office (CIO) DBS dan teknologi machine learning. Salah satu strategi yang diunggulkan adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif.

        Langkah tersebut didukung tren peningkatan permintaan emas global. Pada kuartal I 2026, permintaan investasi emas dunia meningkat 74% secara tahunan, sementara permintaan emas batangan di Indonesia tumbuh 47%.

        Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menilai ketidakpastian global masih akan berlanjut seiring tingginya inflasi dan dinamika geopolitik internasional. Di Amerika Serikat, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,5% secara tahunan, masih berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%.

        Baca Juga: Kebijakan Suku Bunga Negara Maju Dorong Penurunan Harga Acuan Emas

        Baca Juga: Tak Hanya Emas, OJK Buka Peluang Perluasan Barang Jaminan Gadai

        “Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat. Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” kata Djoko.

        Sebagai bagian dari strategi tersebut, DBS menyediakan akses investasi emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar. Perseroan juga menghadirkan 16 produk investasi baru yang dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah di tengah dinamika pasar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: