Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gen Z dan Milenial Abaikan Dana Pensiun, Risiko Finansial Mengintai Generasi Muda

Gen Z dan Milenial Abaikan Dana Pensiun, Risiko Finansial Mengintai Generasi Muda Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank DBS Indonesia mengungkapkan rendahnya komitmen generasi muda dalam menyiapkan dana pensiun, di tengah proyeksi peningkatan populasi usia lanjut dalam dua dekade mendatang. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap ketahanan finansial masyarakat di masa tua.

Berdasarkan studi “Ageing Society 2025”, sebanyak 19% responden usia 22–27 tahun (Gen Z) di Asia Tenggara mengaku belum berkomitmen menabung untuk pensiun. Persentase yang sama juga terjadi pada kelompok usia 28-43 tahun (milenial), menunjukkan bahwa kelompok usia produktif belum memiliki perencanaan pensiun yang matang.

Head of Market Intelligence, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry menilai bahwa persiapan dana pensiun tidak cukup hanya dengan menabung, tetapi membutuhkan strategi yang dijalankan secara disiplin.

“Sebab mempersiapkan masa pensiun bukan sekadar menabung, tetapi memahami strategi sejak dini serta menjalankannya dengan disiplin dan konsisten,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).

Data DBS menunjukkan rata-rata masyarakat hanya menyisihkan sekitar 3% dari pendapatan untuk tabungan, jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10% guna mencapai kemandirian finansial di masa tua. Kondisi ini berpotensi menyebabkan sekitar 100 juta masyarakat Indonesia tidak memiliki tabungan pensiun pada 2038.

“Tanpa perencanaan yang memadai, banyak individu berisiko memasuki masa pensiun dalam kondisi rentan secara finansial, mulai dari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan biaya kesehatan hingga ketergantungan pada orang lain,” ujar Boy.

DBS mencatat prioritas generasi muda saat ini masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek seperti gaya hidup, pengembangan karier, dan peningkatan pendapatan. Akibatnya, perencanaan jangka panjang seperti dana pensiun kerap tertunda.

Untuk mengatasi hal tersebut, DBS menilai strategi yang tepat dan konsisten dapat membantu membangun fondasi keuangan jangka panjang. Salah satunya melalui investasi sejak dini, meskipun dengan nominal kecil, yang dapat memberikan hasil optimal melalui efek compounding.

Selain itu, perencanaan dana pensiun dinilai perlu mencakup kebutuhan secara menyeluruh, tidak hanya kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi juga gaya hidup dan aktivitas di masa tua.

Dalam pengelolaan keuangan, DBS merekomendasikan pendekatan rasio 50-30-20, yakni 50% pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan pribadi, dan 20% untuk tabungan serta investasi.

Boy juga menekankan pentingnya diversifikasi dalam investasi sebagai bagian dari pengelolaan risiko, khususnya bagi generasi yang baru memulai.

“Bagi generasi yang baru memulai, instrumen yang terdiversifikasi seperti reksa dana dapat menjadi langkah awal yang relatif mudah karena membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi imbal hasil yang optimal,” ujarnya.

Baca Juga: OJK Catat Aset Dana Pensiun Tumbuh 11,21% per Januari 2026

Baca Juga: OJK Perkuat Sistem Dana Pensiun Nasional Selaras Standar OECD

Strategi investasi juga perlu disesuaikan dengan fase kehidupan. Generasi milenial cenderung menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas, sementara generasi lebih muda dapat memulai dari instrumen berisiko rendah sebelum beralih ke portofolio yang lebih agresif.

Di sisi lain, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyatakan bahwa aset dana pensiun diproyeksikan tumbuh pada 2026.

“Aset dana pensiun diproyeksikan tumbuh sekitar 10-12% pada 2026 dan dinilai cukup realistis mengingat pada Desember 2025 aset dana pensiun telah tumbuh sekitar 11,01%,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri