Feri Amsari Bantah Pandji soal Polemik Pengusiran Pejabat di UGM: Baca Analogi Tan Malaka soal Maling
Kredit Foto: Istimewa
Aksi pengusiran tiga pejabat negara oleh sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sebuah diskusi publik terus memantik perdebatan sengit di ruang publik.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, secara terbuka menyatakan perbedaan pandangannya dengan komika senior Pandji Pragiwaksono terkait cara mahasiswa merespons kehadiran para pejabat tersebut.
Polemik ini bermula dari gelaran diskusi yang digagas oleh Total Politik di kampus UGM dengan menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.
Diskusi yang awalnya membahas tentang Pancasila dan persatuan tersebut berakhir ricuh setelah mahasiswa naik ke panggung dan mengusir ketiga narasumber.
Pandji Pragiwaksono: Kritik Boleh, tapi Harus Beradab
Melalui unggahan video di akun media sosialnya, Pandji Pragiwaksono menyayangkan aksi anarkis berupa pembubaran paksa tersebut.
Pandji menekankan bahwa di dalam iklim demokrasi, ketidaksetujuan terhadap suatu figur atau kebijakan merupakan hal yang sah, namun cara penyampaiannya harus tetap mencerminkan nilai-nilai moral yang sedang diperjuangkan.
"Kalau merasa pihak lain tidak pantas bicara soal Pancasila, tunjukkan bahwa kita bisa melakukannya dengan lebih beradab dan bijaksana," ujar Pandji dalam klip video tersebut.
Pandji mengaitkan argumennya dengan esensi Sila Keempat Pancasila yang berbicara tentang prinsip keterwakilan dan musyawarah. Menurutnya, tindakan membubarkan paksa diskusi justru mencederai nilai demokrasi dan nilai kesopanan yang seharusnya dipraktikkan oleh kaum terpelajar.
Feri Amsari Membalas: Menyalahkan Mahasiswa demi Sopan Santun Itu Dipaksakan
Argumen Pandji tersebut langsung mendapat respons kritis dari pakar hukum Feri Amsari. Feri menilai, menjadikan Sila Keempat Pancasila sebagai landasan untuk menyalahkan aksi mahasiswa merupakan langkah yang dipaksakan hanya demi mengoreksi masalah tata krama atau sopan santun semata.
Feri mengingatkan kembali esensi pergerakan mahasiswa yang kerap kali meledak-ledak karena melihat adanya ketidakadilan struktural yang dibawa oleh para pemangku kebijakan.
"Jika Mas Pandji membaca analogi Tan Malaka soal maling, mungkin bisa memahami cara mahasiswa bereaksi," kritik Feri Amsari dalam pernyataan tertulisnya.
Melalui analogi pahlawan nasional Tan Malaka tersebut, Feri mengisyaratkan bahwa dalam kondisi tertentu, reaksi keras dan frontal dari mahasiswa merupakan bentuk respons spontan yang wajar ketika mereka merasa ruang akademis dikotori oleh narasi-narasi dari penguasa yang dianggap tidak konsisten dengan perbuatannya.
Untuk diketahui, diskursus pun melebar menjadi perdebatan klasik antara pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang publik melawan urgensi mempertahankan ketegasan sikap moral mahasiswa terhadap kekuasaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat