Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekspor Camilan Asal Bandung Tembus 13 Negara, Australia dan Jepang Dominasi Pasar

        Ekspor Camilan Asal Bandung Tembus 13 Negara, Australia dan Jepang Dominasi Pasar Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Ekspor makanan ringan Indonesia terus membuka peluang pertumbuhan di pasar global.

        Salah satu produsen camilan asal Bandung berhasil memperluas penjualan ke 13 negara, didorong tingginya permintaan dari Jepang dan Australia yang kini menjadi kontributor utama ekspor perusahaan di pasar internasional.

        Maicih terus memperkuat posisi sebagai salah satu merek camilan Indonesia yang menembus pasar internasional. Setelah 16 tahun berkembang, produsen camilan pedas asal Bandung tersebut kini mengekspor produknya ke 13 negara dengan Jepang dan Australia menjadi pasar terbesar.

        Owner Maicih, Dimas Ginanjar Merdeka atau Bob Merdeka, mengungkapkan ekspor Maicih telah menjangkau Jepang, Belanda, Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Uni Emirat Arab, Belgia, Swedia, Finlandia, Jerman, Amerika Serikat, Kanada, dan Filipina.

        "Paling besar penjualannya ke Jepang dan Australia. Ke Jepang rata-rata sebanyak 40.000 hingga 80.000 pieces setiap pengiriman produk. Sedangkan ke Australia kami mengirim hampir satu kontainer setiap bulan secara reguler," ujar Bob Merdeka, Minggu (28/6/2026).

        Bob menjelaskan setiap negara memiliki karakteristik konsumen yang berbeda. Konsumen Jepang paling menyukai produk basreng dan batagor dengan cita rasa pedas khas Maicih. Sementara itu, pasar Australia dan Belanda menunjukkan permintaan tinggi terhadap produk berbahan dasar singkong.

        Masukan dari pasar internasional juga mendorong Maicih melakukan inovasi produk. Salah satunya menghadirkan Basreng Level 0 tanpa rasa pedas yang awalnya dikembangkan khusus untuk memenuhi permintaan konsumen Jepang.

        "Awalnya kami buat khusus untuk pasar Jepang karena ada segmen yang tidak menyukai pedas. Namun, ternyata permintaannya juga tinggi di Indonesia sehingga akhirnya kami pasarkan di dalam negeri," katanya.

        Baca Juga: Ekspor Batu Bara Sempat Ditahan Demi PLN, Kini Normal Lagi usai Stok Capai 141 Juta Ton

        Selain mengembangkan produk makanan ringan, Maicih kini memperluas bisnis melalui eksplorasi bumbu pedas rempah yang digunakan berbagai restoran dan dapur para chef. Perusahaan juga membangun kolaborasi dengan pelaku usaha lokal untuk memperkuat ekosistem bisnis nasional.

        "Kami mulai memasukkan bumbu Maicih ke dapur-dapur chef dan berkolaborasi dengan berbagai mitra dalam ekosistem bisnis lokal," ujarnya.

        Untuk memperluas jangkauan pasar, Maicih juga meluncurkan kemasan mini atau travel pack yang menyasar kebutuhan konsumen individual sekaligus membuka peluang distribusi baru.

        Bob mengatakan perusahaan kini memperluas titik penjualan ke berbagai lokasi dengan mobilitas tinggi seperti bandara, ruang tunggu, bengkel, hingga pusat olahraga agar lebih dekat dengan konsumen.

        Langkah ekspansi tersebut menjadi bagian dari perayaan 16 tahun perjalanan Maicih melalui pameran bertajuk "Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya" yang berlangsung di Bandung pada 26 Juni hingga 5 Juli 2026.

        Melalui momentum tersebut, Maicih juga meluncurkan identitas merek baru sebagai bagian dari strategi rejuvenasi untuk memperluas pasar, terutama menjangkau Generasi Z dan Generasi Alpha tanpa meninggalkan karakter khas yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.

        CEO PT Mamaincu Makmur Selaras sekaligus Co-founder Maicih, Meiry Anwar, mengatakan transformasi tersebut memperkuat posisi Maicih bukan hanya sebagai produsen camilan pedas, tetapi juga sebagai brand yang mengangkat kekayaan rempah Nusantara melalui kolaborasi dengan industri kreatif.

        "Kami ingin terus memperkuat kontribusi terhadap ekosistem bisnis lokal sekaligus membawa semangat Pedas Rempah menjadi identitas yang mampu berkembang melalui berbagai kolaborasi," kata Meiry.

        Meiry menuturkan bahwa perjalanan rejuvenasi Maicih turut melibatkan sejumlah mitra kreatif yang berperan dalam membangun pengalaman baru bagi konsumen.

        ‎"Proses transformasi identitas brand dilakukan bersama POT Branding, yang menerjemahkan kembali semangat petualangan Emak ke dalam identitas yang lebih relevan dan segar tanpa meninggalkan akar cerita yang telah dibangun sejak awal," tambahnya.

        ‎Sementara itu, penguatan narasi dan distribusi cerita di kanal digital dilakukan bersama Ideabakers, yang membantu menghadirkan pengalaman “Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya” kepada audiens yang lebih luas melalui pendekatan komunikasi dan media sosial.

        ‎Kolaborasi juga berkembang ke ranah seni melalui keterlibatan Art Therapy Center. Berangkat dari cerita perjalanan Emak dan eksplorasi Pedas Rempah, para peserta menuangkan interpretasi mereka ke dalam karya-karya visual yang merepresentasikan sudut pandang, warna, dan imajinasi yang beragam.

        ‎Co-founder & Creative Strategy Director POT Branding House, Bayurengga Mauludy mengatakan setiap karya menjadi representasi bahwa satu inspirasi dapat diterjemahkan menjadi banyak makna, sekaligus menunjukkan bagaimana identitas baru Maicih dapat hidup melalui medium kreatif yang berbeda.

        ‎“Setahun setelah POT dan Maicih bersama-sama meracik ulang identitas, menggali kembali karakter Emak dan dunia yang dibangunnya, kini publik dapat melihat ekspresi baru dari perjalanan tersebut. Pedas Rempah bukan hanya soal cita rasa, tetapi semangat untuk memperkuat akar budaya sekaligus membuka ruang interpretasi baru,” katanya.

        ‎Pameran ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara cerita, kreativitas, dan pengalaman. Pengunjung diajak mengikuti perjalanan Pedas Rempah melalui narasi, visual, serta karya hasil kolaborasi lintas disiplin.

        ‎Bagi Maicih, kolaborasi tersebut bukan sekadar kerja sama proyek, tetapi bagian dari perjalanan yang terus berkembang untuk menemukan perspektif baru dan menghadirkan pengalaman yang semakin kaya bagi para penikmatnya.

        ‎Melalui “Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya”, Maicih ingin menunjukkan bahwa sebuah identitas tidak berhenti pada produk, tetapi dapat berkembang menjadi ruang eksplorasi yang menghubungkan rasa, cerita, dan karya.

        ‎"Karena di balik setiap karya, selalu ada sebuah cerita. Dan setiap cerita akan selalu menemukan cara baru untuk dirayakan," ujarnya

        Penetrasi pasar global yang terus meningkat, inovasi kemasan, penguatan identitas merek, serta perluasan jalur distribusi, Maicih optimistis dapat memperbesar ekspor sekaligus memperluas pangsa pasar domestik.

        Strategi tersebut memperlihatkan bagaimana produk makanan ringan berbasis rempah Indonesia mampu meningkatkan daya saing di pasar internasional dan memperkuat posisi industri makanan olahan nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Istihanah

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: